Tugu Tani

Poem for a Student Meeting

By W.S. Rendra

The sun rose this morning
Sniffed the smell of baby piss on the horizon,
Saw the brown river snaking its way to the sea,
And listened to the hum of the bees in the forest.

And now it starts to climb into the sky
And it presides as witness that we are gathered here
To investigate conditions.

We ask:
Why are good intentions sometimes no use?
Why can good intentions clash with good intentions?
People say: “We have good intentions.”
And we ask: “Good intentions for who?”

Yes, some are mighty and some are humble.
Some are armed and some are injured.
Some have positions and some are occupied.
Some have plenty and some are emptied.
And we here ask:
“Your good intentions are for who?
You stand on the side of who?”

Why are good intentions put into practice
But more and more farmers lose their land?
Farms in the mountains are bought up by people from the city.
Huge plantations
Only benefit just one small group.
Advanced equipment that is imported
Doesn’t suit farmers with tiny pieces of land.

Well we ask:
“So your good intentions are for who?”

Now the sun is rising high in the sky.
And will indeed be enthroned above the palm trees.
And here in the hot air we will also ask:
All of us are educated to stand on the side of who?
Will the knowledge taught here
Be an instrument of liberation,
Or of oppression?

Soon the sun will go down.
Night will arrive.
The geckos chatter on the wall.
And the moon sails out.
But our questions shall not abate.
They shall live in the people’s dreams.
Grow in the fields that recede into the distance.

And on the morrow
The sun shall rise once again.
Evermore the new day shall incarnate.
Our questions shall become a forest,
transform into rivers,
And become the waves of the ocean.

Under this hot sun we ask:
There are those who cry, and those who flog,
There are some with nothing, and some who scratch for something.
And our good intentions
Stand on the side of who?

Jakarta
1 December 1977

This poem was presented to students at the University of Indonesia, and performed in the film “Yang Muda Yang Bercinta” directed by Syumanjaya.

 


Poem for a Student Meeting (Sajak Pertemuan Mahasiswa), State of Emergency, W.S. Rendra, Wild & Woolley, Glebe, 1978, p. 38.

Image source is Yang Tegak Berdiri Kokoh dan Yang Lunglai Meleyot-Leyot: Tentang Patung, Ruang Publik dan Kekuasaan

Tugu Tani Today

Tugu Tani Today (Source: https://www.instagram.com/p/BXhI9dYAb9J)

For background on the history and controversy surrounding Tugu Tani see Matvey ManizerKisah Di Balik Tugu Tani: Patung Pahlawan,  Banyak Ormas Menuduh Patung di Tugu Tani di Jakpus Sebagai Lambang PKI and the following article from The Jakarta Post ‘Tugu Tani’ a hero statue, not farmers statue: History book .

National Peasants Day 2017

National Peasants Day 2017 (Source: https://www.instagram.com/p/BZarEQAnIRt)

Shu Li Peasant Heroes 1945 NGA

Shu Li, Peasant Heroes, c. 1945 NGA

Advertisements
Family member of Hamengkoe Buwono VII sultan of Yogyakarta c. 1885 by Kassian Cephas

On Black December, The New Art Movement and Being Contemporary – FX Harsono

Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer

FX Harsono*)

Original Post by Adhisuryo Mei 19 2013

Sebelum tahun 1975 kritik seni rupa di Indonesia didominasi oleh teori yang datang dari barat, yaitu Eropa dan Amerika. Dalam praktik penciptaan ideologi modernisme ini tidak sepenuhnya dilaksanakan sama seperti di Barat, tetapi pada dasarnya seluruh konsep seni rupa Barat dipakai sebagai landasan untuk menilai perjalanan seni rupa Indonesia. Dikotomi antara Barat, non-Barat, tinggi, rendah, pusat dan pinggiran semua lahir dari konsep modernisme.

Medium penciptaan juga tak lepas dari pengaruh modernisme. Demikian juga dunia pendidikan. Pada masa itu kami sebagai orang muda mengatakan bahwa arus besar disebut mainstream. Praktik seni rupa tidak bisa keluar dari batasan seni rupa modern, yaitu lukis, patung dan graphic art.

Identitas

Ideologi modernisme tak disadari oleh para seniman pada tahun 1960an hingga 70an telah membawa mereka terjebak dalam putaran arus dikotomis. Pada satu sisi adanya keinginan untuk menempatkan kesenian mereka dalam arus universal pada sisi lain mereka ingin menunjukkan identitas nasional, yaitu identitas ke-Indonesiaan dengan menghadirkan gaya dekoratif yang direpresentasikan dengan dipakainya unsure-unsur ornamen, relief candi, topeng-topeng, kesenian tradisional dan semua yang dianggap sebagai benda tradisi.

Sepirit kerakyatan yang dikumandangkan oleh Lekra, dan Persagi dengan mencoba melukis masyarakat Indonesia dan kebudayaan luhur nenek moyang dianggap sebagai jalan keluar untuk menemukan identitas ke-Indonesiaan. Mereka tidak menyadari bahwa praktik seni rupa yang mereka pakai tetap mengacu pada ideologi modernisme. Dimana dalam ideologi modernisme tidak membarikan ruang pada masa lalu dalam bentuk apapun. Modernisme selalu berseberangan dengan yang telah lalu dan yang kuno. Demikian juga seniman adalah otonom dan tidak bisa diintervensi olah partai politik atau kekuasaan.

Latar Belakang Sosial & Politik

Peristiwa G30S di mana Partai Komunis Indonesia dinyatakan oleh pemerintah Soeharto telah melakukan kudeta. Peristiwa ini merupakan peristiwa politik yang membawa akibat berupa perubahan besar dalam perkembangan sosial, politik, dan ekonomi. Pengalaman traumatis dari seniman akibat dari peristiwa ini menimbulkan ketakutan untuk mengangkat masalah sosial ke dalam penciptaan keseniannya, yang kemudian dikenal sebagai trauma politik.

Sepinya penciptaan kesenian yang mengangkat masalah sosial dalam seni lukis, atau dengan kata lain, seniman tidak lagi tertarik oleh masalah sosial, bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain trauma politik dan depolitisasi. Depolitisasi terhadap seluruh aktifitas kehidupan termasuk kesenian yang bertujuan menciptakan stabilisasi politik dalam upaya mensukseskan pembangunan ekonomi pada masa orde baru. Akibatnya, seniman takut untuk berbicara politik maupun ikut dalam partai politik, bahkan rasa takut untuk melukis rakyat. Melukis rakyat bisa diartikan msebagai aktifitas kesenian yang punya korelasi politik dengan sosialis atau komunis.

Kelompok Lima

Praktik seni rupa pada tahun 70an awal masih didominasi oleh batasan medium yang ketat. Yaitu seni lukis, seni patung atau seni grafis.  Yang semuanya dikategorikan dalam fine art. Penciptaan dan pendidikan seni terpusat pada dua institusi pendidikan resmi, yaitu Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI dan ITB. Diluar institusi pendidikan resmi masih ada sanggar. Sanggar Bambu di Jogjakarta adalah satu-satunya sanggar yang masih bertahan setelah sanggar-sanggar dibawah partai politik berguguran. Semua ini dikarenakan terjadinya depolitisasi oleh pemerintah Soeharto, sehingga sanggar-sanggar dibawah naungan partai politik tidak popular.

Sanggar-sanggar yang bernaung dibawah institusi agama pun ikut redup. Diantaranya adalah Sanggar Latu Kuning dari kelompok Katolik, Sanggar Muslim dan sanggar Putih. Popularitas sanggar semakin menurun, nampaknya hal ini dikarenakan sikap individual seniman muda semakin kuat dan penolakan terhadap cantrikisme atau pendidikan seni rupa yang menjunjung tinggi senioritas atau patron dan klien.

Pada tahun 1972-73 muncullah kelompok-kelompok kecil yang diinisasi oleh para seniman muda di Jogjakarta. Diantaranya adalah Kelompok Lima Pelukis Muda Yogyakarta (KLPMY), yang terdiri dari Siti Adiyati, Nanik Mirna, Bonyong Munni Ardhi, Hardi dan saya sendiri. Kelompok ini pada awalnya didukung dan di fasilitasi oleh pelukis senior Fajar Sidik. Yang juga sebagai dosen dan ketua jurusan seni lukis di STSRI “ASRI”.

Kelompok ini mengadakan pameran di Solo, kemudian di Lembaga Indonesia Amerika di Surabaya. 3 dari anggota ini, yaitu Bonyong, Nanik dan saya kemudian mengadakan pameran di Balai Budaya Jakarta pada tahun 1974. Disini hubungan para seniman muda ini mulai bersinggungan dengan para pelukis senior di Jakarta, terutama dengan pelukis Nashar.

Gejolak estetika yang terjadi pada waktu itu sangat mewarnai proses penciptaan para seniman muda ini. Gejolak dan keresahan dalam penciptaan karya seni rupa (baca seni lukis) pada waktu itu lebih terpusat dalam dunia pendidikan dimana kami belajar. Keresahan ini memicu demo-demo dan diskusi-diskusi di dalam kampus yang nadanya menentang establishment dalam sistem pendidikan yang bersifat cantrikisme dirasakan mengekang kebebasan untuk bereksperimen.

Pemikiran dan aliran dari para senior banyak mempengaruhi para murid dan seniman muda pada waktu itu. Hal ini karena sistem pendidikan yang disebut sebagai cantrikisme tadi, seniman muda yang menjadi murid berlaku sebagai cantrik atau pengikut setia dari gurunya dan mengikuti pola penciptaan yang diajarkan dan tentulah dilarang melampaui atau keluar dari patron yang telah di tetapkan

Selain sistem pendidikan yang tidak memberikan kebebasan untuk bereksperimen juga diskusi-diskusi pencarian identitas yang sering dilontarkan oleh seniman muda di Jogjakarta. Sikap kritis ini dipicu oleh polemik antara Oesman Effendi dan Sudjojono pada sekita awal tahun 70-an di Koran Kompas, dimana tuduhan Oesman Effendi bahwa tidak ada seni lukis Indonesia dibantah oleh Sudjojono. Polemik ini menjadi pendorong diskusi dalam kelompok kecil untuk mempertanyakan identitas ke-Indonesiaan dalam seni lukis Indonesia. Pada masa itu identitas ditafsirkan sebagai ekplorasi visual yang menghadirkan ornamen, kesenian tradisional, artefak budaya masa lalu yang dianggap mampu memancarkan spirit nasionalisme.

Para seniman muda justru mempertanyakan, apakah menampilkan kebudayaan masa lalu dan kesenian tradisi lokal suatu etnis tertentu bisa merepresentasikan ke-Indonesiaan yang sangat beragam ini? Bukankah semua itu lebih diwarnai dengan eksotisisme? Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong para seniman muda untuk lebih bergairah dalam melakukan eksplorasi pemikiran, teknik dan medium dalam penciptaan.

Munculnya gaya melukis geometris di kampus STSRI “ASRI”, gaya abtsrak ekspresionistis, gaya pop dan sebagainya. Yang mana eksperimen-eksperimen ini secara visual tentunya tak luput dari pengaruh seni rupa Barat. Meski pemahaman konseptual tentang seni rupa Barat kurang dipahami, dikarenakan minimnya kemampuan berbahasa Inggris dan minimnya informasi yang bersifat tekstual. Hal ini disebabkan pendidikan yang masih mengetengahkan teknik sebagai yang utama dalam penciptaan seni rupa, maka konsep, teori dan diskursus dalam seni dan kebudayaan bukan menjadi yang utama.

Desember Hitam

Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yang pertama, yang merupakan cikal bakal Jakarta Biennale, pada tahun 1974 diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Anggota dari KLPMY ditambah Ris Purwono mendapat undangan untuk ikut dalam pameran ini.

Karya-karya para pelukis muda yang dipamerkan tidak lagi mengikuti cara dan teknik melukis dari para guru dan senior mereka. Penciptaan seni menolak lirisisme, kedalaman (deepness), ketunggalan, penciptaan yang dilakukan oleh tangan seniman. Seluruh proses penciptaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai estetis yang menempatkan seniman sebagai individu yang otonom. Semua nilai-nilai itu ditolak dengan menghadirkan karya-karya yang tidak lagi bisa diidentifikasi sebagai praktik penciptaan yang tidak lagi merepresentasikan aura siseniman, karena orisinalitas, ketunggalan dan keunikan dari jiwa seniman yang terpancar tidak lagi dianggap sebagai suatu yang penting.

Bentuk karya yang mencerminkan eksperimentasi ini mendapat kritik dari dewan juri. Dalam pernyataan dewan juri dikatakan bahwa: “Usaha bermain-main dengan apa yang asal “baru” dan “aneh” saja, dapatlah dianggap sebagau usaha coba-coba, cari-cari, atau sekedar iseng, atau bukti langkanya idee dan kreativita”.

Kritik lain yang berlandaskan pada orisinalitas, juri mentakan: “Anggauta-anggauta juri mengakui bahwa hal pengaruh seni lain ialah gejala budaya yang wajar di setiap tempat dan zaman. Pengaruh tidak menentukan kadar kreativita. Sebaliknya, kadar kreativita ditentukan oleh usaha peniruan, lebih-lebih lagi usaha peniruan yang mentah-mentah dan tanpa pengertian. Sehubungan dengan diatas itu, maka orijinalita mutlak tidak dapat dijadikan tuntutan. Namun demikian, pentingnya orijinalita mesti diakui, sepanjang ini memperdalam atau memperkaya makna dan pengalamanan”.

Lebih lanjut mereka menuliskan: “Sehubungan pula dengan yang diatas harus segera dinyatakan bahwa cara-cara dan kecenderungan-kecenderungan melukis yang sudah lama dikenal tetap dapat menyumbangkan makna dan pengalaman berharga.”

Pernyataan dewan juri yang bernada mendiskriditkan para pelukis muda ini segera mendapat tanggapan dengan protes dan keluarnya “Pernyataan Desember Hitam 1974”. Protes ini didukung oleh beberapa seniman diluar seni rupa dan budayawan D.A. Peransi yang telah menuliskan pemikiran para seniman ini.

Pernyataan ini pada intinya mengatakan bahwa, keragaman dalam seni rupa adalah niscaya dan itu sah karena mencerminkan sikap hidup dan kebudayaan yang beragam pula. Untuk itu, maka eksperimen diperlukan, dan establishment tidak lagi positif untuk perkembangan seni rupa Indonesia. Penciptaan sebuah karya seni adalah sah untuk berorientasi pada semua unsur kehidupan, yaitu kehidupan social, politik, ekonomi dan kebudayaan. Pernyataan itu ditandatangani oleh 13 seniman dan budayawan, lima diantara mereka nantinya adalah sebagian dari pencetus Gerakan Seni Rupa Baru.

Keresahan dan Konflik Estetis

Gejala ini dicatat oleh Sanento Yuliman – seorang kritikus dan pengajar di ITB, Bandung – pada  70-an. Sanento mengatakan bahwa karya-karya para seniman muda yang diwakili oleh karya dari mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STSRI “ASRI” (Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI” di Jogja) bersifat antilirisisme ini berlawanan dengan lirisisme yang dianut oleh praktik seni rupa sebelumnya.

Lirisisme menyaring dan mentransformasikan pengalaman serta emosi ke dalam dunia imajiner, maka dalam nonlirisisme seniman seakan-akan menghindari penyaringan dan transformasi. Bukan gambaran benda-benda yang diperlihatkan, melainkan benda-benda itu sendiri disuguhkan. Bukan rasa jijik yang ditampilkan dalam lukisan, tetapi rasa jijik yang ditampilkan karena hadirnya benda yang sesungguhnya. Karya seni bukan lagi sepotong dunia imajiner yang direnungi dari suatu jarak, melainkan obyek konkret yang melibatkan penanggap secara fisik.

Konflik yang bersumber dari lingkungan pendidikan di kampus ini kemudian menyatukan kelompok mahasiswa STSRI “ASRI” dan kelompok mahasiswa dari ITB. Kemudian mereka membentuk “Gerakan Seni Rupa Baru” dengan pamerannya yang pertama di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Agustus 1975.

Gerakan Seni Rupa Baru

Pameran GSRB yang pertama ini diikuti oleh sebelas perupa muda. Mereka adalah: Siti Adiyati, Nanik Mirna, Pandu Sudewo, Muryoto Hartoyo, FX Harsono, Jim Supangkat, Anyool Soebroto, B. Munni Ardhi, Bachtiar Zainoel, Hardi danRis Purwono. Anggota GSRB ini setiap tahun bertambah dengan nama-nama antara lain: S. Prinka, Satyagraha, Nyoman Nuarta, Dede Eri Supria, Wagiono, Priyanto, Agus Tjahjono, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Ronald Manulang, Budi Sulistyo, Slamet Riyadi, Redha Sorana, Freddy Sofyan dan beberap lainnya.

Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) mengeluarkan statemen yang menandai sikap mereka dalam penciptaan seni rupa. Statemen itu kemudian dikenal sebagai “Lima jurus gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia” yang diterbitkan dalam buku Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini terbit pada tahun 1979, menjelang bubarnya GSRB.

GSRB  sempat membuat pameran beberapa kali. Kemudian pada 1979, pameran mereka yang terakhir kalinya, kelompok ini membubarkan diri. GSRB menyatakan diri bubar setelah dalam sebuah rapat di Bandung, FX Harsono, Satyagraha, Jim Supangkat dan Freddy Sofyan, sepakat untuk membubarkan gerakan ini. Alasan pembubaran berbeda-beda pada setiap individu dalam GSRB.

Pertengkaran dan upaya untuk mendiskriditkan karya-karya beberapa seniman yang lebih muda. Upaya untuk menjadikan dirinya sebagai pusat dari gerakan. Dimana semua ini telah menyimpang dari komitmen pertama GSRB, bahwa kebebasan individu dalam mencipta adalah mutlak. Individu lainnya tidak bisa mengintervensi apa lagi berusaha menjadikan seniman lain sebagai pendukung pemikirannya. Semua ini menunjukkan bahwa pemahaman anggota terhadap visi GSRB tidak sama. Setelah GSRB bubar maka ketidak merataan pemahaman nampak jelas dengan hilangnya mereka dari jalur seni rupa kontemporer atau absennya mereka dari praktik seni rupa.

Dalam hal ini Jim Supangkat melihat adanya dua sikap yang saling beradu. Yang pertama cenderung bersikap: Gerakan Seni Rupa Baru adalah gerakan pembaruan yang terus-menurus melahirkan kebaruan tanpa perlu memikirkan kehadiran seni rupa di Indonesia, tanpa perlu mengkaji dasar-dasar perkembangannya. Yang kedua lebih kompleks: selain mencari pembaruan – yang dianggap penembusan kemacetan kreativitas – juga mendambakan pengkajian berbagai masalah seni rupa, mempertanyakan kedudukannya dan kepekaannya ditengah masyarakat.[1]

Post GSRB

Setelah GSRB bubar, para eksponennya melakukan aktifitasnya masing-masing. Nampaknya aktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka bekerja di perusahaan peiklanan, sebagian menjadi penulis dan sebagainya. Memang kesenian semacam yang ditampilkan dalam GSRB bukanlah seni yang bisa diserap oleh pasar. Pasar seni rupa pun pada tahun 70an akhir boleh dibilang belum terbentuk. Pasar seni rupa hanya diisi oleh para kolektor yang mau membeli karya-karya lukisan dari para master. Situasi ini yang menyebabkan para eksponen GSRB terjebak dalam kerutinan kerja industri periklanan atau penerbitan.

Setelah GSRB bubar memang tidak ada kegiatan seni rupa yang besar, tetapi juga  tidak saat itu bisa dikatakan vakum. Gelombang pengaruh gerakan ini mulai menjalar pada seniman muda lainnya, baik mereka yang berada di Yogyakarta, Bandung, maupun Jakarta. Hal ini bisa dilihat dengan bertambahnya anggota gerakan pada setiap pameran, dan munculnya gerakan-gerakan lain yang karya-karyanya mengacu pada bentuk-bentuk karya GSRB. Selanjutnya, muncul perubahan dalam kurikulum pendidikan di ITB (Fakultas Seni Rupa) dan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” (sekarang ISI, Fakultas Seni Rupa dan Desain) dengan memasukkan mata kuliah Eksperimentasi.

Di Jogjakarta kegiatan seni rupa yang bernuansakan eksperimen cukup intens. Para pelaku terdiri dari mahasiswa yang ikut dalam GSRB, mereka dimotori oleh Bonyong Munni Ardhi, Haris Purnomo, Gendut Riyanto, Wienardi, Mohamad Cholid, Ronald Manulang, Dede Eri Supria dan beberapa lagi. Hubungan dan diskusi antara beberapa eksponen GSRB dari Jakarta, Jogja dan Bandung masih berlanjut.

PIPA

Selain kelompok Seni Rupa Baru, muncul kelompok-kelompok lain yang mempunyai bentuk karya yang menolak dogma-dogma seni rupa lama. Salah satu dari kelompok tersebut adalah Kelompok “Kepribadian Apa”  (PIPA). Kelompok ini mempertanyakan apa itu kepribadian Indonesia. Bagi mereka pemantapan kepribadian Indonesia dengan pola yang ditentukan akan mengurangi kebebasan dalam penciptaan karya seni.

PIPA yang terbentuk pada tahun 1978, diikuti oleh 17 mahasiswa STSRI “ASRI” Yogyakarta. Mereka diantaranya adalah: Dede Eri Supria, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Ronald Manulang, B. Munni Ardhi, Wienardi, Tulus Warsito, Budi Sulistyo dan Redha Sorana. Karya-karya yang dipamerkan meliputi performance art, karya-karya instalasi yang mirip dengan karya dari GSRB. Pameran ini hanya berlangsung dua hari,  kemudian ditutup oleh polisi. Sebagian besar dari peserta pameran ini kemudian ikut dalam GSRB dan mengikuti pameran GSRB pada 1979.

Kegiatan lainnya:

Tahun 1980, Haris Purnomo mengadakan performance secara beramai-ramai di sepanjang jalan Maliobor dengan tajuk “Culture Shock”.

Tahun 1981,  Gendut mengelar karya di sawah

Tahun 1981, Haris Purnomo, Dadang Christanto dan beberapa lagi mengadakan performance “Pertandingan Tinju” di aula kampus STSRI “ASRI”

Tahun 1982, Pameran seni rupa lingkungan di Parangtritis, yang diikuti cukup banyak perupa muda dan mahasiswa STSRI “ASRI”. Saya dan Gendut yang sudah berdomisili di Jakarta pun ikut dalam kegiatan ini

Proses 85

Tahun 1985, kegiatan lain yang perlu dicatat adalah Pameran “Proses 85,” yang diselenggarakan di Galeri Seni Rupa Ancol, Jakarta pada Oktober 1985. Kegiatan ini mengangkat tema masalah lingkungan hidup. Pameran ini diikuti oleh lima perupa: B. Munni Ardhi, Harsono, Moelyono, Haris Purnomo dan Gendut Riyanto. Satu hal yang patut dicatat dari kegiatan ini adalah kesenian sebaiknya mampu menampilkan masalah yang dihadapi secara obyektif dan proporsional. Maka pengamatan lapangan secara teliti, penelitian dan kerjasama dengan pakar dari masalah yang akan ditampilkan adalah perlu.

Dari pengamatan saya kegiatan ini adalah yang pertama dimana penciptaan seni rupa bekerjasama dengan LSM dalam melakukan penelitian. Modus praktik penciptaan ini kemudian dikembangakn dalam kegiatan seni rupa yang bertajuk “Pasar Raya Dunia Fantasi”

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World "No 1 in America"

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World “No 1 in America” (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

Pasar Raya Dunia Fantasi

GSRB yang telah bubar pada 1979, kemudian coba dihidupkan kembali oleh beberapa anggotanya, antara lain Harsono, Jim Supangkat, Siti Adiyati, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Priyanto, Wienardi, dan didukung oleh Sanento Yuliman. Selain mereka, ikut serta pula seniman dari berbagai disiplin kesenian lainnya.

Pameran Proyek 1 Pasaraya Dunia Fantasi pada 15 Juni 1987  didahului dengan riset dan pengumpulan data, serta inventarisasi karya seni yang dijajakan di jalanan. Sebuah pameran seni rupa instalasi ruang yang dikerjakan secara kooperatif dengan mengangkat permasalahan kebudayaan urban di Jakarta bisa dianggap mewakili kota besar di Indonesia dengan segala kompleksitas kebudayaannya. Di dalam pameran ini tidak ada karya individual.

Pameran ini diwarnai dengan semangat eksplorasi yang tinggi dengan keinginan untuk meninggalkan seni elitis dan menekankan pada seni rupa yang lebih plural. Hasil temuan benda yang bisa diidentifikasi sebagai budaya urban di duplikasi dalam ukuran besar. Iklan dan media-media cetak di buat ulang dengan plesetan atau dalam postmodern disebut apropriasi dan …

Gerakan ini juga tidak bertahan lama. Nampaknya pengembangan pribadi masing-masing individu selama masa vakum dari SRB ini telah menciptakan kesadaran dan keberpihakan terhadap masalah-masalah yang berbeda.

Kiprah di Forum Internasional

Setelah keinginan untuk menghidupkan GSRB tak terwujud, tidak berarti gaung dari praktik penciptaan karya seni rupa seperti yang di lakukan oleh GSRB terhenti. Tahun 1989 Jim Supangkat, Gendut Riyanto, Sri Malela dan Nyoman Nuarta mendapat undangan untuk mengikuti Artist Regional Exchanges atau ARX ke 2 di Perth, Australia. Ini pertama kali seni rupa Indonesia masuk ke forum internasional. Setelah itu, tahun 1992, FX Harsono, mendapat undangan residensi di South Australia University dan dilanjutkan dengan pameran di ARX yang ke 3, Perth, Australi.

Nampaknya ARX adalah awal dari masuknya seni rupa Indonesia ke forum internasional. ARX yang ke 4, tahun (1995), diikuti oleh 4 perupa dan seorang penulis. Mereka adalah: Moelyono, Made Jirna, Arahmayani, Rotua Magdalena, dan Enin Supriyanto sebagai penulis dan curator.

Kiprah di forum internasional tidak terhenti pada ARX. Tahun 1993 untuk pertama kalinya perhelatan besar Asia Pacific Triennale yang diselenggarakan oleh Queensland Art Gallery dengan melibatkan perupa dari Indonesia. Sejak saat itu Indonesia mendapat perhatian institusi seni rupa Asia, termasuk Jepang. Pada setiap kegiatan saya catat baik di Indonesia hingga di luar Indonesia selalu terdapat eksponen GSRB yang berpartisipasi. Hal ini membuktikan bubarnya GSRB tidak berarti selesainya praktik penciptaan seni rupa masih berlanjut dan terus menginspirasi perupa dari generasi yang lebih muda.

The Best of 75 (Paling Top 75) By Harsono 1975

The Best of 75 (Paling Top 75) By Harsono 1975 (Source: http://u-in-u.com/nafas/articles/2010/fx-harsono/img/11/)

Institusionalisasi Seni Rupa Kontemporer

Meski sebutan kontemporer secara resmi tidak pernah kami pakai dalam semua aktivitas GSRB, tetapi praktik seni rupa GSRB tidak bisa lepas dari konsep kekontemporeran. Demikian juga dengan penolakan terhadap ideologi modernism tidak pernah tertulis secara eksplisit dalam statemen Lima Jurus GSRB, tetapi secara implisit tersirat dalam pernataan “Lima Jurus Gerakan Seni Rupa Baru”. Di dalam pernyataan itu dituliskan penolakan terhadap batasan seni rupa seperti yang dianut dalam pemikiran seni modern, yaitu yang disebut sebagai fine art yang terdiri dari seni lukis, seni patung dan seni grafis sebagai praktik penciptaan yang terpisah. Seni rupa Indonesia sah untuk mengakomodir semua inspirasi dari seni tradisi, dimana di dalam ideologi modernisme segala yang berhubungan dengan tradisi dan yang lalu bukan menjadi acuan dari pemikiran modern. Semua ini tertuang pada jurus yang pertama.

Pada jurus ke-dua jelas dikemukakan penolakan terhadap sikap elitis dan avandgardisme yang menjadikan seni rupa menjadi terisolasi dari masyarakat dengan segala permasalahannya. Secara implisit bahwa pemikiran ini adalah menunjukkan penolakan terhadap kedudukan seniman yang otonom. Dimana individu yang otonom adalah jargon yang dominan dalam praktik penciptaan seni rupa modern.

Pada pernyataan selanjutnya menekankan bahwa sejarah seni rupa Indonesia mempunyai alurnya sendiri dan menolak universalitas. Pernyataan ini secara tegas mepenolak dominasi teori Barat sebagai satu-satunya kebenaran, atau yang dikenal sebagai kebenaran tunggal. GSRB berpihak kepada keragaman yang dilandasi oleh kesejarahannya sendiri dengan semua latarbelakang sosial dan kebudayaannya.

Dalam sebuah seminar postmodern di Universitas Satya Wacana pada tahun 1993, Ariel Haryanto mengatakan bahwa praktik kegiatan seni yang di dasari oleh pemikiran postmodern telah di lakukan oleh Gerakan Seni Rupa Baru. Artinya secara tidak langsung bahwa praktik seni rupa oleh GSRB sejalan dengan apa yang disebut sebagai seni rupa kontemporer, apabila landasan ideologi seni rupa kontemporer dilandasi oleh pemikiran postmodern.

Secara resmi istilah kontemporer baru dipakai dalam Biennale Jakarta ke 8, tahun 1993 yang dikurasi oleh Jim Supangkat. Dimana pemikiran postmodern dipakai sebagai landasan kuratorialnya. Kemudian pameran tunggal saya pada tahun 1994 di Galeri Nasional istilah kontemporer saya pakai untuk menunjukkan praktis penciptaan karya-karya saya.

Ken Dedes by Jim Supangkat 1975 (Remade 1996)

Ken Dedes by Jim Supangkat 1975 (Remade 1996) (Now at the NGS https://www.nationalgallery.sg/artworks/artwork-detail/1996-00215/ken-dedes)

Persoalannya bukanlah terletak pada penyebutan istilah kontemporer atau penolakan terhadap ideologi modernisme secara eksplisit, tetapi harus dilihat bagaimana praktik penciptaan karya-karya seni rupa baru pada waktu itu. Demikian juga bagaimana gaung GSRB mampu memberikan inspirasi bagi perupa generasi berikutnya. Semua ini bisa dilihat dari simpul-simpul peritiwa seni rupa yang saya uraikan di atas. Kalau saat ini hanya bisa diketemukan beberapa eksponen GSRB yang masih aktif berkiprah di dunia seni rupa tidak berarti bahwa GSRB gagal, karena spirit tidak dapat diukur dari kuantitas. Spirit adalah roh yang merasuk kejiwa para generasi yang lebih muda untuk terus melakukan eksperimentasi dan membuka cakrawala baru dan memberikan warna pada perkembangan kebudayaan saat ini tanpa harus silau dengan kebenaran-kebenaran besar yang tak berakar pada kesejarahan kita sendiri.

*) FX Harsono adalah eksponen GSRB yang terus aktif berkarya hingga saat ini, sebagai penulis seni rupa dan pengajar

 

Lampiran:

Lima jurus gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia

1. Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji “seni rupa” yang diakui hingga kini, (kami menganggapnya sebagai “seni rupa lama”) yaitu seni rupa yang dibatasi hanya di sekitar: seni lukis, seni patung dan seni gambar (seni grafis)

Dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, penetrasi di antara bentuk-bentuk seni rupa di atas, yang bisa melahirkan karya-karya seni rupa yang tak dapat dikategorikan pada bentuk-bentuk seni rupa di atas, dianggap “sah”  (Seni Rupa Baru).

Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji adanya elemen-elemen khusus dalam seni rupa, seperti elemen-elemen lukisan, elemen gambar dan sebagainya. Keseluruhan berada dalam satu kategori, elemen-elemen rupa yang bisa berkaitan dengan elemen-elemen ruang, gerak, waktu dan sebagainya.

Dengan begitu, semua kegiatan yang dapat dikategorikan ke dalam seni rupa di Indonesia, kendati didasari “estetika” yang berbeda, umpamanya yang berasal dari kesenian tradisional, secara masuk akal dianggap sah sebagai seni rupa yang hidup.

2. Membuang sejauh mungkin sikap “spesialis” dalam seni rupa yang cenderung membangun “bahasa elitis” yang didasari sikap “avand-gardisme” yang dibangun oleh imaji: seniman seharusnya menyuruk ke dalam dirinya dan mencari hal-hal subtil (agar tidak dimengerti masyarakat, karena seniman adalah bagian dari misteri hidup?)

Sebagai gantinya, percaya pada segi “kesamaan” yang ada pada manusia dikarenakan lingkungan kehidupan yang sama. Percaya pada masalah-masalah sosial yang aktual sebagai masalah yang lebih penting untuk dibicarakan daripada sentimen-sentimen pribadi. Dalam hal ini, kekayaan ide atau gagasan lebih diutamakan daripada ketrampilan “master” dalam menggarap elemen-elemen bentuk.

3. Mendambakan “kemungkinan berkarya”, dalam arti mengharapkan keragaman gaya dalam seni rupa Indonesia. Menghujani seni rupa Indonesia dengan kemungkinan-kemungkinan baru, mengakui semua kemungkinan tanpa batasan, sebagai pencerminan sikap “mencari”. Dari sini, menentang semua penyusutan kemungkinan, antara lain sikap pengajaran “cantrikisme” di dalam gaya seorang guru diikuti murid-muridnya, yang sebenarnya dapat berbuat lain, memperkaya kemungkinan “gaya” seni rupa Indonesia.

4. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang “Indonesia” dengan jalan mengutamakan pengetahuan tentang sejarah seni rupa Indonesia baru yang berawal dari Raden Saleh. Mempelajari periodisasinya, melihat dengan kritis dan tajam caranya berkembang, menimbang dan menumpukkan perkembangan selanjutnya ke situ. Percaya bahwa dalam sejarah seni rupa Indonesia baru ini terdapat masalah-masalah yang sejajar bahkan dimiliki buku-buku impor, dan mampu mengisi seni rupa Indonesia, baik kritikus, sejarahwan atau pemikir. Menentang habis-habisan pendapat yang mengatakan perkembangan seni rupa Indonesia adalah bagian dari sejarah seni rupa dunia, yang mengatakan seni adalah universal, yang menggantungkan masalah seni rupa Indonesia pada masalah seni rupa di mancanegara.

5. Mencita-citakan seni rupa yang lebih hidup, dalam arti tidak diragukan kehadirannya, wajar, berguna, dan hidup meluas dikalangan masyarakat.

 


Source: Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer by FX Harsono

For more of the work of Kassian Cephas

 

 

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

The Art of Liberation & The Liberation of Art

Manifesto of the New Art Movement 1987

Manifesto of the New Art Movement 1987

THE ART OF LIBERATION
THE LIBERATION OF ART

The art of liberation is expression based on an awareness of the need for the liberation of the definition of art. The forms taken by this expression prioritizes declaration and the spirit of exploration based on an aesthetic of liberation.

The Art of Liberation The Liberation of Art

The Art of Liberation The Liberation of Art

The liberation of art is the initiative to change the definition of art. The principle idea of this awareness is that art is an expression of plurality which is based on a variety of frames of references. The definition of art currently recognized and acknowledged is shackled to the definition of art as only painting, sculpture or graphic design is art as bound to the frame of reference of “High Art”.

(I) Observing:

The definition of art as encompassing expression in only three fields, namely painting, sculpture and graphic design, is devoid of a conceptual framework.

(II) Considering:

The definition of the Indonesian term seni rupa is based on a direct translation of the term “fine arts” descending from a Latin definition from the Renaissance which is la belle arti del disegno.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Sticker Car

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Sticker Car (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(III) Concluding:

It is not fully understood that this definition of art is rooted in the principles of artes liberales (Liberal Arts) from the frame of reference of “High Art” elaborated during the Renaissance in the sixteenth century, an outlook that believes in the existence of only one (high) culture and the one type of art which it has produced.

(IV) Declaring:

That art is an expression of plurality. That culture has a variety of frames of reference.

(V) Declaring:

The current definition of art is the result of adaptation devoid of conceptual thinking, lacking consideration of the acculturation of aesthetics.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Documentation

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Documentation (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

This formulation of the definition of art is trapped. The definition of art with a “High Art” frame of reference has become completely impoverished and specific. This formulation does not see the surrounding reality where a variety of expressions of art based on other frames of reference are found.

Throughout the history of Indonesian art, this groundless and contorted definition has held sway. On the other hand, art grounded in ethnic cultures, popular art from everyday life, crafts and design (art with other frames of reference outside the old definition) stand as phenomena which never gets any attention.

This is an ironic curiosity.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Supermarket

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Supermarket (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(VI) Paying Attention To:

The only expression of art which is in accord with that definition of art is the only one used by Indonesian Modern Art, part of World Modern Art (derived from artes liberales) in its connection to the principle that “art is universal”.

Due to the inaccurate formulation of its definition, Indonesian Modern Art is also trapped in a narrow circle. Once again there has been adaptation without conceptual thought or aesthetic consideration. Artists and critics of Indonesian Modern Art have in truth become blind and regard modern art – painting, sculpture and graphic design – as the one and only expression of art. Outside this, art does not exist. This attitude has become popular and is seen in the expression: “… is not painting”.

This is not fanaticism for a particular idea, rather a strongly held attitude which is baseless. The reality is truly: confusion. The absence of critical attention to this contorted definition is a sign of this confusion. In fact, there is no awareness of any definition at all. The activities of modern art itself proceed in a fragmented way with painting as the most popular of these.

(VII) Declaring:

Modern Indonesian Artists have made an idiomatic error, using the language of Modern Art but without an aesthetic understanding. They base their artistic activity entirely on incomplete fragments of the history of Modern Art, a belief in the history of art and only one understanding of aesthetics.

Modern Indonesian artists have become consumerist. They regard a variety of concepts of style within these fragments of the History of Modern Art as a source which has to be made sacred and embraced unconditionally. A contorted imitation of lifestyle also happens. A romantic lifestyle has turned into epigonic eccentricity. Internally exploratory individualism has been replaced by megalomaniacal egotism.

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

This advanced erroneous adaptation has led critics and modern artists into a preoccupation with matching expressions of modern art with a “dictionary” of art history. Modern artists truly do not practice a tradition of exploration.

(VIII) Declaring:

Thinking about art in Indonesia is headed for bankruptcy.

Indonesian Modern Art, the only art consistent with the definition, is experiencing a deep stagnation. It is fixed on the early styles of Modern Art. It has stopped exploring, is incapable of reflecting inwardly in search of the basis for other developments.

Art based on other frames of reference has been expunged from thinking about art. The contorted definition of art has relegated this to obscurity. Art with a background in ethnic cultures has without exception been framed as belonging to the past. Graphic design as the product of technological and industrial progress is thought of as crude art regarded only for its surface beauty. Popular art which deals with everyday life is regarded as the product of mass culture and as devoid of value.

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World "No 1 in America"

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World “No 1 in America” (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(IX) Proclaiming:

What is needed is the liberation of art. A framework of expression that prioritizes the dismantling of a misguided tradition of art. A framework of expression that is rational and which prioritizes expression based on an aesthetics of liberation.

(X) Proclaiming:

What is needed is a redefinition of art, the liberation of art from the confines of a definition rooted in artes liberales, to search for a new definition capable of embracing every expression of art.

(XI) Proclaiming:

What is needed is the liberation of our thought world from a completely single perspective believing in only one frame of reference which begets one art, only one global community in a cultural form that is complete and integrated.

Jakarta, May 2 1987

 


(*) Translation of the Manifesto of the New Art Movement 1987 is based in part on the work of the Digital Archive of Contemporary Indonesian Art and is also available in the original at Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru 1987. It represents the manifesto of the New Art Movement used for the Project 1: Fantasy World Supermarket (Pasaraya Dunia Fantasi: Proyek 1) exhibition in 1987.

Gerakan Seni Rupa Baru at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art.

Garuda by Kanva Abas

“This Black December” 1974

One Hundred Thousand for Rubbish Art: A Review of Menanam Padi di Langit [Planting Rice in the Sky] by Puthut EA. Blog post by Wahyudin, January 2017

9

[…] Listen to the description of Bambang Bujono (Tempo, 11 January 1975): “Neither in the invitation to painters to participate in the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition nor in the guidelines for the judging panel for the exhibition can you find a section normally found in judging guidelines, namely that the decision of the judges can not be disputed.

Maybe for this reason, a dispute arose that took the form of the “1974 Black December Declaration” and the delivery of a condolence funeral wreath on behalf of the community to the Jakarta Arts Council for the “Death of Indonesian Painting”. This happened on the last night of 1974, on the closing night of the 1974 Art Festival at the Jakarta Arts Center (Taman Ismail Marzuki or TIM). About the last thing, the condolence wreath, it didn’t come off because the security guards at TIM were the ones who “accepted” the wreath and they then stored and locked it in the TIM Dance Studio.”

Compare this with the description of Miklouho-Maklai (1998: 36-37). “On 31 December 1974 during the Grand Indonesian Painting Exhibition which was held biennially at TIM, an incident occurred which marked the start of the New Art Movement. A protest against the judges which awarded prizes to a number of paintings expressed in the form of sending a condolence funeral wreath emblazoned with the words “With condolences for the death of our painting”.

The condolence wreath was sent on the last day of the exhibition, when the prizes were given to the winners of the competition traditionally accompanying the Biennial. This was intended to publicize their anger at the judges who only valued what the students regarded as “decorative and consumerist” painting. The protesters called themselves the “Black December” movement and it was also supported by the students from the Indonesian Academy of Visual Arts (ASRI).”

Look at this photograph:

Condolence Furneral Wreath

Condolence Funeral Wreath – “With Condolences for the Death of Our Painting” (Tempo, 11 January 1975)

[…] The first paragraph on page 69 says, “Apart from the wreath, there was also a manifesto written by the protesters, many names signed it, especially from Bandung, Jakarta and of course the five people from Yogya.”

The question is, who were the “five people from Yogya”? It’s very surprising that even with his overactive imagination, the writer of this book is unable to answer this question.

A short explanation on page 67 of the book makes it possible to speculate about the “five people from Yogya”. But the page only mentions four people, Bonyong, Harsono, Hardi, and Nanik Mirna. So who’s the person not mentioned? Because the answer is not provided in the book, we have to recall the historical facts about the Group of Five Young Yogya Painters.

As I mentioned earlier, according to Harsono (2013), the Group of Five Young Yogya Painters which formed in Yogyakarta in 1973 under the “guidance” of Fadjar Sidik (painter, STSRI “ASRI” lecturer, and member of the judging panel for the “Good Paintings” exhibition) was composed of five students from STSRI “ASRI” Yogyakarta, that is Bonyong Munni Ardhi, FX Harsono, Hardi, Nanik Mirna, and Siti Adiyati. (Also see Hendro Wiyanto, “FX Harsono dan Perkembangan Karyanya [1972-2009]” in Re: Petesi/Posisi FX Harsono, (2010: 41-187); Dermawan T (2013) and Miklouho-Maklai (1998: 33-34)).

At the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition or Jakarta Biennial I, they were invited to participate. Apart from them, listed in the catalog were five other STSRI “ASRI” students who were also invited, namely Nyoman Gunarsa, Ris Purwana, Suatmaji, Sudarisman and Subroto SM.

Given these historical facts, I hope no reader is tempted to speculate and answer that what was meant by the writer of this book by the “five people from Yogya” is Bonyong, Harsono, Hardi, Nanik Mirna, and Siti Adiyati, because such speculation would take one  down the road of historical liars and the anti-“Jasmerah” brigade.

How could it be otherwise as you need to know that although invited to participate in the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition, there were only four members of the Group of Five Young Yogya Painters who signed the “Black December” manifesto, namely Bonyong, Hardi, Harsono, and Adiyati. (See Harsono (2013); Dermawan T. (2013); Wiyanto (2010: 70) and Miklouho-Maklai (1998: 36-38).) The one person who did not sign the Declaration, of course you can guess, was Nanik Mirna. This is why Nanik did not receive the academic sanction of being “suspended without time limit” from STSRI “ASRI” as was the case with Bonyong, Hardi, Harsono, Adiyati, and Ris Purwana. (See “Skors di ASRI”, Tempo, 15 February 1975; Dermawan T. (tt.: 135); Dermawan T. (2013); Miklouho-Maklai (1998: 38) and Dermawan T. (1979: 2).)

Black December Statement Signatories 31 December 1974

Black December Declaration Signatories 31 December 1974

Black December Declaration 1974

Black December Declaration 1974

Black December 1974 Declaration

Recalling that over the past few years, artistic and cultural activities have been carried on without a clear cultural strategy, we have come to the conclusion that art and culture entrepreneurs do not display a shred of evidence of the slightest understanding of the most fundamental problems of our culture. This is an indication that for some time the development of art and culture has been destroyed by a spiritual erosion.

For this reason, we feel the need in this black December of 1974 to declare our opinion regarding the symptoms visible in the works of Indonesian painting today.

1. That while the diversity of Indonesian painting constitutes an undeniable fact, even so this diversity does not in itself display positive development.

2. That for development that ensures the continuation of our culture, painters have a high calling to provide spiritual direction which is based on humanitarian values and which is oriented around the reality of social life, and which is oriented towards the realities of social, cultural, political and economic life.

3. That creativity is the essential nature of painters who employ whatever means to achieve new perspectives for Indonesian painting.

4. That therefore the identity of Indonesian painting has of itself a clear existence.

5. That what has hindered the development of Indonesian painting to date is worn out concepts which are still professed by the establishment, art and culture entrepreneurs and established artists.

In the interest of saving our painting, now is the right time for us to bestow an honor on that establishment, that is the honor of being a retired culture fighter.

Indonesia, 31 December 1974

Signed by:
Muryotohartoyo, Juzwar, Harsono, B. Munni Ardhi, M. Sulebar, Ris Purwana, Daryono, Adiyati, D. A. Peransi, Baharudin Marasutan, Ikranegara, Adri Darmadji, Hardi, Abdul Hadi W


This slideshow requires JavaScript.


Source: Seratus Ribu untuk Sampah Seni Rupa.

Images of the Declaration come from Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer.

Image of Garuda by Kanva Abas from Fase Perkembangan Sejarah Senirupa Indonesia Bagian 2.

The Grand Indonesian Painting Exhibition 1974 at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art.   The exhibition catalog.

Gerakan Seni Rupa Baru Exhibition 1987 at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art .

Salawaku

Salawaku Trailer – MIFF

 

The remote wilderness of Indonesia’s Maluku Islands provides a magnificent backdrop for this gentle journey of youthful discovery.

In a secluded village in Indonesia’s beautiful Maluku Islands, ten-year-old Salawaku’s older sister has gone. Salawaku takes it upon himself to find her and sets off on a grand journey into the wild heart of his country. Joined in his travels by the son of the village chief and a tourist from Jakarta carrying her own heavy burden, Salawaku will learn to see his sister in a new light after discovering that the world of adults is more complicated than it seems.

From rising star of Indonesian cinema Pritagita Arianegara comes Salawaku, an eye-opening and heart-stirring road movie set in a stretch of the world where roads barely exist. Nominated for eight awards at the Indonesian Film Festival, including Best Film and Best Director, it is a film of surprises and wonder, where difficult secrets and glorious landscapes combine into a tender and morally complex whole.

CLASSROOM DISCUSSION POINTS
Double standards for men and women in different cultures, attitudes towards sex and family, how romance is depicted in cinema, the divide between the country lifestyle and the city lifestyle, knowing how to behave ethically.

MIFF recommends this film as suitable for ages 10+
Very mild themes about unwanted pregnancy and abortion, all of which is mostly indirectly implied through dialogue, and none on which is shown. Some very mild impact scenes depicting characters being pushed around and slapped. One scene where adult characters get drunk.

Source: Melbourne International Film Festival

 

Mau Dibawa Ke Mana Sinema Kita? : Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia – Khoo Gaik Cheng & Thomas Barker (Penyunting)

Saya sering berkata “malas” untuk menonton film Indonesia. Bukan demi menunjukan sikap resistansi apapun. Tak ada pembenaran terkaitnya, karena mendukung perfilman Indonesia paling sederhana memang…

Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita?

Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita?

Source: Mau Dibawa Ke Mana Sinema Kita? : Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia – Khoo Gaik Cheng & Thomas Barker (Penyunting)

Batak manuscripts from Sumatra in the British Library – Asian and African studies blog

“The Batak peoples of north Sumatra are associated with a distinctive writing culture, with manuscripts written on a range of organic materials, primarily tree bark, bamboo and bone.  Most characteristic are the bark books known as pustaha, written on strips of bark of the alim (Aquilaria malaccensis) tree, which is folded concertina-fashion, and sometime furnished with wooden covers, which can be beautifully decorated.” (Read more.)

Source: Batak manuscripts in the British Library – Asian and African studies blog

Soother of sorrows or seducer of morals? The Malay Hikayat Inderaputera – Asian and African studies blog of The British Library

“Probably composed in the late 16th century, Hikayat Inderaputera was one of the most widespread and popular Malay tales, and is known from over thirty manuscripts dating from the late 17th century onwards. The story is found from Sumatra to Cambodia and the Philippines, not only in Malay but also in Acehnese, Bugis, Makasarese, Sasak, Cham, Maranao and Maguindanao versions (Braginsky 2009). At its core is probably a Persian mathnawi based, in turn, on the Hindi poem Madhumalati written around 1550 (Braginsky 2004: 388), but it also drew on Malay Islamic epics such as Hikayat Amir Hamzah and Javanese Panji stories.” Read more.

Opening pages of the Hikayat Inderaputera, with the double decorated frames digitally reunited (as the MS is currently misbound). British Library, MSS Malay B.14, ff. 1v-2r.

Sirat al-mustakim, composed by Nuruddin al-Raniri between 1634 and 1644, a copy from Aceh, 19th century. British Library, Or 15979, ff. 2v-3r.

The manuscript of Hikayat Inderaputera is written in a distinctive neat small hand, with two styles of the letter kaf. In the middle in red is the word al-kisah, with a decoratively knotted final letter, ta marbuta, signifiying the start the episode of Inderaputera’s abduction by the golden peacock: Al-kisah peri mengatakan tatkala Inderaputera diterbangkan merak emas. British Library, MSS Malay B.14, f. 5r (detail).

Sunset

Early Morning

By Muhammad Yamin, 1921

Fiery sunset still glows wondrously,
Saddening the majestic stars;
Becomes dim then the light is gone,
Rising and setting since time immemorial.

Dawn in the east arrives fiercely,
Spreading jewels all over the world;
Radiant bright as rare pearls,
Variety of colors, sparkling.

Slowly and gloriously,
Gradually rises the sun;
Illuminating the earth with beauty.

All the flowers spread their perfume,
The blooms are open, a splendorous array;
Covered in dew, beading the branches.


First published in Indonesian in the Dutch language journal Jong Sumatra : organ van den Jong Sumatranen Bond, Batavia, June 1921 via Pujangga Baru II/9, March 1935. Republished in Jassin, H. B.  Pujangga baru : prosa dan puisi / dikumpulkan dengan disertai kata pengantar oleh H.B. Jassin  [Pujangga Baru : prose and poetry / collected and accompanied by an introduction by H.B. Jassin] Haji Masagung, Jakarta,  1987, p. 327.


Image care of Wanderlust East Java, Private Travel Agency for Nature Tourism in East Java Indonesia.

Parrot

The Malay Tale of the Wise Parrot – The British Library

“The Hikayat Bayan Budiman, ‘Tale of the Wise Parrot’, is an old work of Malay literature, probably composed in the 15th century or earlier. It is based on a Persian original, the Tuti-nama, and is the earliest example in Malay of a framed narrative: a literary work comprising a compilation of individual stories. And like the…” (read more)

Source: The British Library’s Asian and African studies blog: The Malay Tale of the Wise Parrot

Accept

By Sheila on 7

What is wrong with this song?
Why do I remember you again?
It’s as if I can feel
The beat of your heart and the step of your feet
Where is this going to carry me?

You have to be able, able to accept
You have to be able, able to take the positive
Because nothing, nothing’s the same any more
Although you know, he feels it too
Aaaa aa…

On this quiet narrow road
It’s as if I can hear you sing
You know, you know
My feeling was your feeling too
You have to be able, able to accept
You have to be able, able to take the positive
Because nothing, nothing’s the same any more
Although you know, he feels it too
Where is this going to carry me?
I won’t ever know

You have to be able, able to accept
You have to be able, able to take the positive
Because nothing, nothing’s the same any more
Although you know, he feels it too
Na na na na na na…

Sending sun beams for you