The Najwa Gaze

A Note from Najwa

 

We are Anti-Corruption

Real
respect
is
the confession
that comes after
proof,
not
the coercion
of those
who
want
to fr
ee
ze
#CatatanNajwa

Source: Najwa Shihab @NajwaShihab

image


Advertisements
Family member of Hamengkoe Buwono VII sultan of Yogyakarta c. 1885 by Kassian Cephas

On Black December, The New Art Movement and Being Contemporary – FX Harsono

Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer

FX Harsono*)

Original Post by Adhisuryo Mei 19 2013

Sebelum tahun 1975 kritik seni rupa di Indonesia didominasi oleh teori yang datang dari barat, yaitu Eropa dan Amerika. Dalam praktik penciptaan ideologi modernisme ini tidak sepenuhnya dilaksanakan sama seperti di Barat, tetapi pada dasarnya seluruh konsep seni rupa Barat dipakai sebagai landasan untuk menilai perjalanan seni rupa Indonesia. Dikotomi antara Barat, non-Barat, tinggi, rendah, pusat dan pinggiran semua lahir dari konsep modernisme.

Medium penciptaan juga tak lepas dari pengaruh modernisme. Demikian juga dunia pendidikan. Pada masa itu kami sebagai orang muda mengatakan bahwa arus besar disebut mainstream. Praktik seni rupa tidak bisa keluar dari batasan seni rupa modern, yaitu lukis, patung dan graphic art.

Identitas

Ideologi modernisme tak disadari oleh para seniman pada tahun 1960an hingga 70an telah membawa mereka terjebak dalam putaran arus dikotomis. Pada satu sisi adanya keinginan untuk menempatkan kesenian mereka dalam arus universal pada sisi lain mereka ingin menunjukkan identitas nasional, yaitu identitas ke-Indonesiaan dengan menghadirkan gaya dekoratif yang direpresentasikan dengan dipakainya unsure-unsur ornamen, relief candi, topeng-topeng, kesenian tradisional dan semua yang dianggap sebagai benda tradisi.

Sepirit kerakyatan yang dikumandangkan oleh Lekra, dan Persagi dengan mencoba melukis masyarakat Indonesia dan kebudayaan luhur nenek moyang dianggap sebagai jalan keluar untuk menemukan identitas ke-Indonesiaan. Mereka tidak menyadari bahwa praktik seni rupa yang mereka pakai tetap mengacu pada ideologi modernisme. Dimana dalam ideologi modernisme tidak membarikan ruang pada masa lalu dalam bentuk apapun. Modernisme selalu berseberangan dengan yang telah lalu dan yang kuno. Demikian juga seniman adalah otonom dan tidak bisa diintervensi olah partai politik atau kekuasaan.

Latar Belakang Sosial & Politik

Peristiwa G30S di mana Partai Komunis Indonesia dinyatakan oleh pemerintah Soeharto telah melakukan kudeta. Peristiwa ini merupakan peristiwa politik yang membawa akibat berupa perubahan besar dalam perkembangan sosial, politik, dan ekonomi. Pengalaman traumatis dari seniman akibat dari peristiwa ini menimbulkan ketakutan untuk mengangkat masalah sosial ke dalam penciptaan keseniannya, yang kemudian dikenal sebagai trauma politik.

Sepinya penciptaan kesenian yang mengangkat masalah sosial dalam seni lukis, atau dengan kata lain, seniman tidak lagi tertarik oleh masalah sosial, bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain trauma politik dan depolitisasi. Depolitisasi terhadap seluruh aktifitas kehidupan termasuk kesenian yang bertujuan menciptakan stabilisasi politik dalam upaya mensukseskan pembangunan ekonomi pada masa orde baru. Akibatnya, seniman takut untuk berbicara politik maupun ikut dalam partai politik, bahkan rasa takut untuk melukis rakyat. Melukis rakyat bisa diartikan msebagai aktifitas kesenian yang punya korelasi politik dengan sosialis atau komunis.

Kelompok Lima

Praktik seni rupa pada tahun 70an awal masih didominasi oleh batasan medium yang ketat. Yaitu seni lukis, seni patung atau seni grafis.  Yang semuanya dikategorikan dalam fine art. Penciptaan dan pendidikan seni terpusat pada dua institusi pendidikan resmi, yaitu Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI dan ITB. Diluar institusi pendidikan resmi masih ada sanggar. Sanggar Bambu di Jogjakarta adalah satu-satunya sanggar yang masih bertahan setelah sanggar-sanggar dibawah partai politik berguguran. Semua ini dikarenakan terjadinya depolitisasi oleh pemerintah Soeharto, sehingga sanggar-sanggar dibawah naungan partai politik tidak popular.

Sanggar-sanggar yang bernaung dibawah institusi agama pun ikut redup. Diantaranya adalah Sanggar Latu Kuning dari kelompok Katolik, Sanggar Muslim dan sanggar Putih. Popularitas sanggar semakin menurun, nampaknya hal ini dikarenakan sikap individual seniman muda semakin kuat dan penolakan terhadap cantrikisme atau pendidikan seni rupa yang menjunjung tinggi senioritas atau patron dan klien.

Pada tahun 1972-73 muncullah kelompok-kelompok kecil yang diinisasi oleh para seniman muda di Jogjakarta. Diantaranya adalah Kelompok Lima Pelukis Muda Yogyakarta (KLPMY), yang terdiri dari Siti Adiyati, Nanik Mirna, Bonyong Munni Ardhi, Hardi dan saya sendiri. Kelompok ini pada awalnya didukung dan di fasilitasi oleh pelukis senior Fajar Sidik. Yang juga sebagai dosen dan ketua jurusan seni lukis di STSRI “ASRI”.

Kelompok ini mengadakan pameran di Solo, kemudian di Lembaga Indonesia Amerika di Surabaya. 3 dari anggota ini, yaitu Bonyong, Nanik dan saya kemudian mengadakan pameran di Balai Budaya Jakarta pada tahun 1974. Disini hubungan para seniman muda ini mulai bersinggungan dengan para pelukis senior di Jakarta, terutama dengan pelukis Nashar.

Gejolak estetika yang terjadi pada waktu itu sangat mewarnai proses penciptaan para seniman muda ini. Gejolak dan keresahan dalam penciptaan karya seni rupa (baca seni lukis) pada waktu itu lebih terpusat dalam dunia pendidikan dimana kami belajar. Keresahan ini memicu demo-demo dan diskusi-diskusi di dalam kampus yang nadanya menentang establishment dalam sistem pendidikan yang bersifat cantrikisme dirasakan mengekang kebebasan untuk bereksperimen.

Pemikiran dan aliran dari para senior banyak mempengaruhi para murid dan seniman muda pada waktu itu. Hal ini karena sistem pendidikan yang disebut sebagai cantrikisme tadi, seniman muda yang menjadi murid berlaku sebagai cantrik atau pengikut setia dari gurunya dan mengikuti pola penciptaan yang diajarkan dan tentulah dilarang melampaui atau keluar dari patron yang telah di tetapkan

Selain sistem pendidikan yang tidak memberikan kebebasan untuk bereksperimen juga diskusi-diskusi pencarian identitas yang sering dilontarkan oleh seniman muda di Jogjakarta. Sikap kritis ini dipicu oleh polemik antara Oesman Effendi dan Sudjojono pada sekita awal tahun 70-an di Koran Kompas, dimana tuduhan Oesman Effendi bahwa tidak ada seni lukis Indonesia dibantah oleh Sudjojono. Polemik ini menjadi pendorong diskusi dalam kelompok kecil untuk mempertanyakan identitas ke-Indonesiaan dalam seni lukis Indonesia. Pada masa itu identitas ditafsirkan sebagai ekplorasi visual yang menghadirkan ornamen, kesenian tradisional, artefak budaya masa lalu yang dianggap mampu memancarkan spirit nasionalisme.

Para seniman muda justru mempertanyakan, apakah menampilkan kebudayaan masa lalu dan kesenian tradisi lokal suatu etnis tertentu bisa merepresentasikan ke-Indonesiaan yang sangat beragam ini? Bukankah semua itu lebih diwarnai dengan eksotisisme? Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong para seniman muda untuk lebih bergairah dalam melakukan eksplorasi pemikiran, teknik dan medium dalam penciptaan.

Munculnya gaya melukis geometris di kampus STSRI “ASRI”, gaya abtsrak ekspresionistis, gaya pop dan sebagainya. Yang mana eksperimen-eksperimen ini secara visual tentunya tak luput dari pengaruh seni rupa Barat. Meski pemahaman konseptual tentang seni rupa Barat kurang dipahami, dikarenakan minimnya kemampuan berbahasa Inggris dan minimnya informasi yang bersifat tekstual. Hal ini disebabkan pendidikan yang masih mengetengahkan teknik sebagai yang utama dalam penciptaan seni rupa, maka konsep, teori dan diskursus dalam seni dan kebudayaan bukan menjadi yang utama.

Desember Hitam

Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yang pertama, yang merupakan cikal bakal Jakarta Biennale, pada tahun 1974 diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Anggota dari KLPMY ditambah Ris Purwono mendapat undangan untuk ikut dalam pameran ini.

Karya-karya para pelukis muda yang dipamerkan tidak lagi mengikuti cara dan teknik melukis dari para guru dan senior mereka. Penciptaan seni menolak lirisisme, kedalaman (deepness), ketunggalan, penciptaan yang dilakukan oleh tangan seniman. Seluruh proses penciptaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai estetis yang menempatkan seniman sebagai individu yang otonom. Semua nilai-nilai itu ditolak dengan menghadirkan karya-karya yang tidak lagi bisa diidentifikasi sebagai praktik penciptaan yang tidak lagi merepresentasikan aura siseniman, karena orisinalitas, ketunggalan dan keunikan dari jiwa seniman yang terpancar tidak lagi dianggap sebagai suatu yang penting.

Bentuk karya yang mencerminkan eksperimentasi ini mendapat kritik dari dewan juri. Dalam pernyataan dewan juri dikatakan bahwa: “Usaha bermain-main dengan apa yang asal “baru” dan “aneh” saja, dapatlah dianggap sebagau usaha coba-coba, cari-cari, atau sekedar iseng, atau bukti langkanya idee dan kreativita”.

Kritik lain yang berlandaskan pada orisinalitas, juri mentakan: “Anggauta-anggauta juri mengakui bahwa hal pengaruh seni lain ialah gejala budaya yang wajar di setiap tempat dan zaman. Pengaruh tidak menentukan kadar kreativita. Sebaliknya, kadar kreativita ditentukan oleh usaha peniruan, lebih-lebih lagi usaha peniruan yang mentah-mentah dan tanpa pengertian. Sehubungan dengan diatas itu, maka orijinalita mutlak tidak dapat dijadikan tuntutan. Namun demikian, pentingnya orijinalita mesti diakui, sepanjang ini memperdalam atau memperkaya makna dan pengalamanan”.

Lebih lanjut mereka menuliskan: “Sehubungan pula dengan yang diatas harus segera dinyatakan bahwa cara-cara dan kecenderungan-kecenderungan melukis yang sudah lama dikenal tetap dapat menyumbangkan makna dan pengalaman berharga.”

Pernyataan dewan juri yang bernada mendiskriditkan para pelukis muda ini segera mendapat tanggapan dengan protes dan keluarnya “Pernyataan Desember Hitam 1974”. Protes ini didukung oleh beberapa seniman diluar seni rupa dan budayawan D.A. Peransi yang telah menuliskan pemikiran para seniman ini.

Pernyataan ini pada intinya mengatakan bahwa, keragaman dalam seni rupa adalah niscaya dan itu sah karena mencerminkan sikap hidup dan kebudayaan yang beragam pula. Untuk itu, maka eksperimen diperlukan, dan establishment tidak lagi positif untuk perkembangan seni rupa Indonesia. Penciptaan sebuah karya seni adalah sah untuk berorientasi pada semua unsur kehidupan, yaitu kehidupan social, politik, ekonomi dan kebudayaan. Pernyataan itu ditandatangani oleh 13 seniman dan budayawan, lima diantara mereka nantinya adalah sebagian dari pencetus Gerakan Seni Rupa Baru.

Keresahan dan Konflik Estetis

Gejala ini dicatat oleh Sanento Yuliman – seorang kritikus dan pengajar di ITB, Bandung – pada  70-an. Sanento mengatakan bahwa karya-karya para seniman muda yang diwakili oleh karya dari mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STSRI “ASRI” (Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI” di Jogja) bersifat antilirisisme ini berlawanan dengan lirisisme yang dianut oleh praktik seni rupa sebelumnya.

Lirisisme menyaring dan mentransformasikan pengalaman serta emosi ke dalam dunia imajiner, maka dalam nonlirisisme seniman seakan-akan menghindari penyaringan dan transformasi. Bukan gambaran benda-benda yang diperlihatkan, melainkan benda-benda itu sendiri disuguhkan. Bukan rasa jijik yang ditampilkan dalam lukisan, tetapi rasa jijik yang ditampilkan karena hadirnya benda yang sesungguhnya. Karya seni bukan lagi sepotong dunia imajiner yang direnungi dari suatu jarak, melainkan obyek konkret yang melibatkan penanggap secara fisik.

Konflik yang bersumber dari lingkungan pendidikan di kampus ini kemudian menyatukan kelompok mahasiswa STSRI “ASRI” dan kelompok mahasiswa dari ITB. Kemudian mereka membentuk “Gerakan Seni Rupa Baru” dengan pamerannya yang pertama di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Agustus 1975.

Gerakan Seni Rupa Baru

Pameran GSRB yang pertama ini diikuti oleh sebelas perupa muda. Mereka adalah: Siti Adiyati, Nanik Mirna, Pandu Sudewo, Muryoto Hartoyo, FX Harsono, Jim Supangkat, Anyool Soebroto, B. Munni Ardhi, Bachtiar Zainoel, Hardi danRis Purwono. Anggota GSRB ini setiap tahun bertambah dengan nama-nama antara lain: S. Prinka, Satyagraha, Nyoman Nuarta, Dede Eri Supria, Wagiono, Priyanto, Agus Tjahjono, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Ronald Manulang, Budi Sulistyo, Slamet Riyadi, Redha Sorana, Freddy Sofyan dan beberap lainnya.

Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) mengeluarkan statemen yang menandai sikap mereka dalam penciptaan seni rupa. Statemen itu kemudian dikenal sebagai “Lima jurus gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia” yang diterbitkan dalam buku Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini terbit pada tahun 1979, menjelang bubarnya GSRB.

GSRB  sempat membuat pameran beberapa kali. Kemudian pada 1979, pameran mereka yang terakhir kalinya, kelompok ini membubarkan diri. GSRB menyatakan diri bubar setelah dalam sebuah rapat di Bandung, FX Harsono, Satyagraha, Jim Supangkat dan Freddy Sofyan, sepakat untuk membubarkan gerakan ini. Alasan pembubaran berbeda-beda pada setiap individu dalam GSRB.

Pertengkaran dan upaya untuk mendiskriditkan karya-karya beberapa seniman yang lebih muda. Upaya untuk menjadikan dirinya sebagai pusat dari gerakan. Dimana semua ini telah menyimpang dari komitmen pertama GSRB, bahwa kebebasan individu dalam mencipta adalah mutlak. Individu lainnya tidak bisa mengintervensi apa lagi berusaha menjadikan seniman lain sebagai pendukung pemikirannya. Semua ini menunjukkan bahwa pemahaman anggota terhadap visi GSRB tidak sama. Setelah GSRB bubar maka ketidak merataan pemahaman nampak jelas dengan hilangnya mereka dari jalur seni rupa kontemporer atau absennya mereka dari praktik seni rupa.

Dalam hal ini Jim Supangkat melihat adanya dua sikap yang saling beradu. Yang pertama cenderung bersikap: Gerakan Seni Rupa Baru adalah gerakan pembaruan yang terus-menurus melahirkan kebaruan tanpa perlu memikirkan kehadiran seni rupa di Indonesia, tanpa perlu mengkaji dasar-dasar perkembangannya. Yang kedua lebih kompleks: selain mencari pembaruan – yang dianggap penembusan kemacetan kreativitas – juga mendambakan pengkajian berbagai masalah seni rupa, mempertanyakan kedudukannya dan kepekaannya ditengah masyarakat.[1]

Post GSRB

Setelah GSRB bubar, para eksponennya melakukan aktifitasnya masing-masing. Nampaknya aktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka bekerja di perusahaan peiklanan, sebagian menjadi penulis dan sebagainya. Memang kesenian semacam yang ditampilkan dalam GSRB bukanlah seni yang bisa diserap oleh pasar. Pasar seni rupa pun pada tahun 70an akhir boleh dibilang belum terbentuk. Pasar seni rupa hanya diisi oleh para kolektor yang mau membeli karya-karya lukisan dari para master. Situasi ini yang menyebabkan para eksponen GSRB terjebak dalam kerutinan kerja industri periklanan atau penerbitan.

Setelah GSRB bubar memang tidak ada kegiatan seni rupa yang besar, tetapi juga  tidak saat itu bisa dikatakan vakum. Gelombang pengaruh gerakan ini mulai menjalar pada seniman muda lainnya, baik mereka yang berada di Yogyakarta, Bandung, maupun Jakarta. Hal ini bisa dilihat dengan bertambahnya anggota gerakan pada setiap pameran, dan munculnya gerakan-gerakan lain yang karya-karyanya mengacu pada bentuk-bentuk karya GSRB. Selanjutnya, muncul perubahan dalam kurikulum pendidikan di ITB (Fakultas Seni Rupa) dan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” (sekarang ISI, Fakultas Seni Rupa dan Desain) dengan memasukkan mata kuliah Eksperimentasi.

Di Jogjakarta kegiatan seni rupa yang bernuansakan eksperimen cukup intens. Para pelaku terdiri dari mahasiswa yang ikut dalam GSRB, mereka dimotori oleh Bonyong Munni Ardhi, Haris Purnomo, Gendut Riyanto, Wienardi, Mohamad Cholid, Ronald Manulang, Dede Eri Supria dan beberapa lagi. Hubungan dan diskusi antara beberapa eksponen GSRB dari Jakarta, Jogja dan Bandung masih berlanjut.

PIPA

Selain kelompok Seni Rupa Baru, muncul kelompok-kelompok lain yang mempunyai bentuk karya yang menolak dogma-dogma seni rupa lama. Salah satu dari kelompok tersebut adalah Kelompok “Kepribadian Apa”  (PIPA). Kelompok ini mempertanyakan apa itu kepribadian Indonesia. Bagi mereka pemantapan kepribadian Indonesia dengan pola yang ditentukan akan mengurangi kebebasan dalam penciptaan karya seni.

PIPA yang terbentuk pada tahun 1978, diikuti oleh 17 mahasiswa STSRI “ASRI” Yogyakarta. Mereka diantaranya adalah: Dede Eri Supria, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Ronald Manulang, B. Munni Ardhi, Wienardi, Tulus Warsito, Budi Sulistyo dan Redha Sorana. Karya-karya yang dipamerkan meliputi performance art, karya-karya instalasi yang mirip dengan karya dari GSRB. Pameran ini hanya berlangsung dua hari,  kemudian ditutup oleh polisi. Sebagian besar dari peserta pameran ini kemudian ikut dalam GSRB dan mengikuti pameran GSRB pada 1979.

Kegiatan lainnya:

Tahun 1980, Haris Purnomo mengadakan performance secara beramai-ramai di sepanjang jalan Maliobor dengan tajuk “Culture Shock”.

Tahun 1981,  Gendut mengelar karya di sawah

Tahun 1981, Haris Purnomo, Dadang Christanto dan beberapa lagi mengadakan performance “Pertandingan Tinju” di aula kampus STSRI “ASRI”

Tahun 1982, Pameran seni rupa lingkungan di Parangtritis, yang diikuti cukup banyak perupa muda dan mahasiswa STSRI “ASRI”. Saya dan Gendut yang sudah berdomisili di Jakarta pun ikut dalam kegiatan ini

Proses 85

Tahun 1985, kegiatan lain yang perlu dicatat adalah Pameran “Proses 85,” yang diselenggarakan di Galeri Seni Rupa Ancol, Jakarta pada Oktober 1985. Kegiatan ini mengangkat tema masalah lingkungan hidup. Pameran ini diikuti oleh lima perupa: B. Munni Ardhi, Harsono, Moelyono, Haris Purnomo dan Gendut Riyanto. Satu hal yang patut dicatat dari kegiatan ini adalah kesenian sebaiknya mampu menampilkan masalah yang dihadapi secara obyektif dan proporsional. Maka pengamatan lapangan secara teliti, penelitian dan kerjasama dengan pakar dari masalah yang akan ditampilkan adalah perlu.

Dari pengamatan saya kegiatan ini adalah yang pertama dimana penciptaan seni rupa bekerjasama dengan LSM dalam melakukan penelitian. Modus praktik penciptaan ini kemudian dikembangakn dalam kegiatan seni rupa yang bertajuk “Pasar Raya Dunia Fantasi”

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World "No 1 in America"

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World “No 1 in America” (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

Pasar Raya Dunia Fantasi

GSRB yang telah bubar pada 1979, kemudian coba dihidupkan kembali oleh beberapa anggotanya, antara lain Harsono, Jim Supangkat, Siti Adiyati, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Priyanto, Wienardi, dan didukung oleh Sanento Yuliman. Selain mereka, ikut serta pula seniman dari berbagai disiplin kesenian lainnya.

Pameran Proyek 1 Pasaraya Dunia Fantasi pada 15 Juni 1987  didahului dengan riset dan pengumpulan data, serta inventarisasi karya seni yang dijajakan di jalanan. Sebuah pameran seni rupa instalasi ruang yang dikerjakan secara kooperatif dengan mengangkat permasalahan kebudayaan urban di Jakarta bisa dianggap mewakili kota besar di Indonesia dengan segala kompleksitas kebudayaannya. Di dalam pameran ini tidak ada karya individual.

Pameran ini diwarnai dengan semangat eksplorasi yang tinggi dengan keinginan untuk meninggalkan seni elitis dan menekankan pada seni rupa yang lebih plural. Hasil temuan benda yang bisa diidentifikasi sebagai budaya urban di duplikasi dalam ukuran besar. Iklan dan media-media cetak di buat ulang dengan plesetan atau dalam postmodern disebut apropriasi dan …

Gerakan ini juga tidak bertahan lama. Nampaknya pengembangan pribadi masing-masing individu selama masa vakum dari SRB ini telah menciptakan kesadaran dan keberpihakan terhadap masalah-masalah yang berbeda.

Kiprah di Forum Internasional

Setelah keinginan untuk menghidupkan GSRB tak terwujud, tidak berarti gaung dari praktik penciptaan karya seni rupa seperti yang di lakukan oleh GSRB terhenti. Tahun 1989 Jim Supangkat, Gendut Riyanto, Sri Malela dan Nyoman Nuarta mendapat undangan untuk mengikuti Artist Regional Exchanges atau ARX ke 2 di Perth, Australia. Ini pertama kali seni rupa Indonesia masuk ke forum internasional. Setelah itu, tahun 1992, FX Harsono, mendapat undangan residensi di South Australia University dan dilanjutkan dengan pameran di ARX yang ke 3, Perth, Australi.

Nampaknya ARX adalah awal dari masuknya seni rupa Indonesia ke forum internasional. ARX yang ke 4, tahun (1995), diikuti oleh 4 perupa dan seorang penulis. Mereka adalah: Moelyono, Made Jirna, Arahmayani, Rotua Magdalena, dan Enin Supriyanto sebagai penulis dan curator.

Kiprah di forum internasional tidak terhenti pada ARX. Tahun 1993 untuk pertama kalinya perhelatan besar Asia Pacific Triennale yang diselenggarakan oleh Queensland Art Gallery dengan melibatkan perupa dari Indonesia. Sejak saat itu Indonesia mendapat perhatian institusi seni rupa Asia, termasuk Jepang. Pada setiap kegiatan saya catat baik di Indonesia hingga di luar Indonesia selalu terdapat eksponen GSRB yang berpartisipasi. Hal ini membuktikan bubarnya GSRB tidak berarti selesainya praktik penciptaan seni rupa masih berlanjut dan terus menginspirasi perupa dari generasi yang lebih muda.

The Best of 75 (Paling Top 75) By Harsono 1975

The Best of 75 (Paling Top 75) By Harsono 1975 (Source: http://u-in-u.com/nafas/articles/2010/fx-harsono/img/11/)

Institusionalisasi Seni Rupa Kontemporer

Meski sebutan kontemporer secara resmi tidak pernah kami pakai dalam semua aktivitas GSRB, tetapi praktik seni rupa GSRB tidak bisa lepas dari konsep kekontemporeran. Demikian juga dengan penolakan terhadap ideologi modernism tidak pernah tertulis secara eksplisit dalam statemen Lima Jurus GSRB, tetapi secara implisit tersirat dalam pernataan “Lima Jurus Gerakan Seni Rupa Baru”. Di dalam pernyataan itu dituliskan penolakan terhadap batasan seni rupa seperti yang dianut dalam pemikiran seni modern, yaitu yang disebut sebagai fine art yang terdiri dari seni lukis, seni patung dan seni grafis sebagai praktik penciptaan yang terpisah. Seni rupa Indonesia sah untuk mengakomodir semua inspirasi dari seni tradisi, dimana di dalam ideologi modernisme segala yang berhubungan dengan tradisi dan yang lalu bukan menjadi acuan dari pemikiran modern. Semua ini tertuang pada jurus yang pertama.

Pada jurus ke-dua jelas dikemukakan penolakan terhadap sikap elitis dan avandgardisme yang menjadikan seni rupa menjadi terisolasi dari masyarakat dengan segala permasalahannya. Secara implisit bahwa pemikiran ini adalah menunjukkan penolakan terhadap kedudukan seniman yang otonom. Dimana individu yang otonom adalah jargon yang dominan dalam praktik penciptaan seni rupa modern.

Pada pernyataan selanjutnya menekankan bahwa sejarah seni rupa Indonesia mempunyai alurnya sendiri dan menolak universalitas. Pernyataan ini secara tegas mepenolak dominasi teori Barat sebagai satu-satunya kebenaran, atau yang dikenal sebagai kebenaran tunggal. GSRB berpihak kepada keragaman yang dilandasi oleh kesejarahannya sendiri dengan semua latarbelakang sosial dan kebudayaannya.

Dalam sebuah seminar postmodern di Universitas Satya Wacana pada tahun 1993, Ariel Haryanto mengatakan bahwa praktik kegiatan seni yang di dasari oleh pemikiran postmodern telah di lakukan oleh Gerakan Seni Rupa Baru. Artinya secara tidak langsung bahwa praktik seni rupa oleh GSRB sejalan dengan apa yang disebut sebagai seni rupa kontemporer, apabila landasan ideologi seni rupa kontemporer dilandasi oleh pemikiran postmodern.

Secara resmi istilah kontemporer baru dipakai dalam Biennale Jakarta ke 8, tahun 1993 yang dikurasi oleh Jim Supangkat. Dimana pemikiran postmodern dipakai sebagai landasan kuratorialnya. Kemudian pameran tunggal saya pada tahun 1994 di Galeri Nasional istilah kontemporer saya pakai untuk menunjukkan praktis penciptaan karya-karya saya.

Ken Dedes by Jim Supangkat 1975 (Remade 1996)

Ken Dedes by Jim Supangkat 1975 (Remade 1996) (Now at the NGS https://www.nationalgallery.sg/artworks/artwork-detail/1996-00215/ken-dedes)

Persoalannya bukanlah terletak pada penyebutan istilah kontemporer atau penolakan terhadap ideologi modernisme secara eksplisit, tetapi harus dilihat bagaimana praktik penciptaan karya-karya seni rupa baru pada waktu itu. Demikian juga bagaimana gaung GSRB mampu memberikan inspirasi bagi perupa generasi berikutnya. Semua ini bisa dilihat dari simpul-simpul peritiwa seni rupa yang saya uraikan di atas. Kalau saat ini hanya bisa diketemukan beberapa eksponen GSRB yang masih aktif berkiprah di dunia seni rupa tidak berarti bahwa GSRB gagal, karena spirit tidak dapat diukur dari kuantitas. Spirit adalah roh yang merasuk kejiwa para generasi yang lebih muda untuk terus melakukan eksperimentasi dan membuka cakrawala baru dan memberikan warna pada perkembangan kebudayaan saat ini tanpa harus silau dengan kebenaran-kebenaran besar yang tak berakar pada kesejarahan kita sendiri.

*) FX Harsono adalah eksponen GSRB yang terus aktif berkarya hingga saat ini, sebagai penulis seni rupa dan pengajar

 

Lampiran:

Lima jurus gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia

1. Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji “seni rupa” yang diakui hingga kini, (kami menganggapnya sebagai “seni rupa lama”) yaitu seni rupa yang dibatasi hanya di sekitar: seni lukis, seni patung dan seni gambar (seni grafis)

Dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, penetrasi di antara bentuk-bentuk seni rupa di atas, yang bisa melahirkan karya-karya seni rupa yang tak dapat dikategorikan pada bentuk-bentuk seni rupa di atas, dianggap “sah”  (Seni Rupa Baru).

Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji adanya elemen-elemen khusus dalam seni rupa, seperti elemen-elemen lukisan, elemen gambar dan sebagainya. Keseluruhan berada dalam satu kategori, elemen-elemen rupa yang bisa berkaitan dengan elemen-elemen ruang, gerak, waktu dan sebagainya.

Dengan begitu, semua kegiatan yang dapat dikategorikan ke dalam seni rupa di Indonesia, kendati didasari “estetika” yang berbeda, umpamanya yang berasal dari kesenian tradisional, secara masuk akal dianggap sah sebagai seni rupa yang hidup.

2. Membuang sejauh mungkin sikap “spesialis” dalam seni rupa yang cenderung membangun “bahasa elitis” yang didasari sikap “avand-gardisme” yang dibangun oleh imaji: seniman seharusnya menyuruk ke dalam dirinya dan mencari hal-hal subtil (agar tidak dimengerti masyarakat, karena seniman adalah bagian dari misteri hidup?)

Sebagai gantinya, percaya pada segi “kesamaan” yang ada pada manusia dikarenakan lingkungan kehidupan yang sama. Percaya pada masalah-masalah sosial yang aktual sebagai masalah yang lebih penting untuk dibicarakan daripada sentimen-sentimen pribadi. Dalam hal ini, kekayaan ide atau gagasan lebih diutamakan daripada ketrampilan “master” dalam menggarap elemen-elemen bentuk.

3. Mendambakan “kemungkinan berkarya”, dalam arti mengharapkan keragaman gaya dalam seni rupa Indonesia. Menghujani seni rupa Indonesia dengan kemungkinan-kemungkinan baru, mengakui semua kemungkinan tanpa batasan, sebagai pencerminan sikap “mencari”. Dari sini, menentang semua penyusutan kemungkinan, antara lain sikap pengajaran “cantrikisme” di dalam gaya seorang guru diikuti murid-muridnya, yang sebenarnya dapat berbuat lain, memperkaya kemungkinan “gaya” seni rupa Indonesia.

4. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang “Indonesia” dengan jalan mengutamakan pengetahuan tentang sejarah seni rupa Indonesia baru yang berawal dari Raden Saleh. Mempelajari periodisasinya, melihat dengan kritis dan tajam caranya berkembang, menimbang dan menumpukkan perkembangan selanjutnya ke situ. Percaya bahwa dalam sejarah seni rupa Indonesia baru ini terdapat masalah-masalah yang sejajar bahkan dimiliki buku-buku impor, dan mampu mengisi seni rupa Indonesia, baik kritikus, sejarahwan atau pemikir. Menentang habis-habisan pendapat yang mengatakan perkembangan seni rupa Indonesia adalah bagian dari sejarah seni rupa dunia, yang mengatakan seni adalah universal, yang menggantungkan masalah seni rupa Indonesia pada masalah seni rupa di mancanegara.

5. Mencita-citakan seni rupa yang lebih hidup, dalam arti tidak diragukan kehadirannya, wajar, berguna, dan hidup meluas dikalangan masyarakat.

 


Source: Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer by FX Harsono

For more of the work of Kassian Cephas

 

 

Demo reformasi di DPR

Not the Representatives of the Corrupt – Kompas Editorial

JAKARTA, KOMPAS – The House of Representatives is certainly not the representatives of the corrupt. “The Honorable” people’s representatives are paid with the people’s money. The plan of the House of Representatives Committee of Inquiry into the Corruption Eradication Commission to go on safari to meet corruption convicts in a number of prisons in Indonesia has deeply unsettled the sense of justice of citizens, the taxpayers. As stated by Deputy Chairman of the House Inquiry Committee Risa Mariska (PDIP-West Java), “the Committee wants to uncover information on how they felt while they were witnesses, suspects and convicts of corruption cases.” Risa is a Representative for the West Java VI constituency covering the Regencies of Bogor and Bekasi and received 25,578 votes in her electoral district. It is very easy to meet corruption convicts in prison. They would be very happy, overjoyed, to tell the House Inquiry Committee about the conduct of the Corruption Eradication Commission while they were questioned, while they were in custody, their beliefs that they are the victims of conspiracies, their feelings of being entrapped and any amount of other inhuman treatment. With that data, the House Inquiry Committee, being driven by a coalition of parties which support the government, will obtain ammunition to dismantle the anti-corruption institution. The aim of the Committee at the very least can be read from the statement of House Deputy Speaker Fahri Hamzah (PKS-West Nusa Tenggara), from the Welfare Justice Party House faction, is to review state commissions such as the Corruption Eradication Commission.

New Art Movement, Project 1: Supermarket Fantasy World Exhibition at Jakarta Arts Center 1987

New Art Movement, Project 1: Supermarket Fantasy World Exhibition at Jakarta Arts Center 1987

Reviewing is the same as disbanding the Corruption Eradication Commission, limiting the Commission’s authority or transforming the Commission into an ad hoc institution. The House Inquiry Committee’s target can actually be read and it is to emasculate the Corruption Eradication Commission. The declaration of some politicians that the Committee is intended to strengthen the Commission has not a shred of empirical evidence. From the beginning, several House of Representatives politicians have been agitated by measures taken by the Commission to erase corruption from this country. There are Representatives on trial, party chairmen and business people have been arrested. The Corruption Eradication Commission is indeed not without fault. However, the way to correct these mistakes is not to exercise the House’s right to establish committees of inquiry the legitimacy of which continue to be a problem. Members of the House Inquiry Committee should realize that they are the representatives of the people, not the representatives of the corrupt. Corrupt behavior by members of the government has resulted in violations of civil and economic rights of the people.

5 July 2017

 


Source: Tajuk Rencana Bukan Perwakilan Koruptor. Images from Detik Ini 17 Tahun yang Lalu Reformasi Dimulai and Masinton Ungkap Proses Konsolidasi Mahasiswa untuk Jatuhkan Soeharto. Members of the House of Representatives http://www.dpr.go.id/anggota.

 

Manuscript

Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok – Brill

Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok by Dick van der Meij

Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok by Dick van der Meij

By Dick van der Meij, independent scholar – Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok discusses aspects of the long and impressive manuscript traditions of these islands, which share many aspects of manuscript production. Many hitherto unaddressed features of palm-leaf manuscripts are discussed here for the first time as well as elements of poetic texts, indications of mistakes, colophons and the calendrical information used in these manuscripts. All features discussed are explained with photographs. The introductory chapters offer insights into these traditions in a wider setting and the way researchers have studied them. This original and pioneering work also points out what topics needs further exploration to understand these manuscript traditions that use a variety of materials, languages, and scripts to a wider public.

Biographical note
Dick van der Meij (Ph.D. Leiden 2002) has published editions and translations of Balinese, Malay, and Javanese texts and articles on Indonesian literature and manuscripts. His latest work is an edition and translation (with N. Lambooij) of the Malay Hikayat Mi’raj Nabi Muḥammad (Brill, 2014).

Readership
All interested in the manuscript traditions of Indonesia, Southeast Asia and manuscripts in the world in general, including students, academics, curators and librarians.
Table of contents
Acknowledgements
List of Illustrations
List of Tables
Notes to the Reader
Abbreviations

General Introduction
The Present Book
Languages
Script
Manuscripts in Arabic
Multiple Languages and Scripts in Manuscripts
The Chapters in the Book
Topics not Discussed in the Book

1 Manuscripts
Manuscripts as Physical Objects
Complete and Incomplete Manuscripts
Intact, Damaged and Repaired Manuscripts
Old and New Manuscripts
Illustrated and Illuminated Manuscripts
Naturalistic Figure Depiction
The Natural World in Javanese Illustrations
Illuminations
Wĕdana
Commissioned Manuscripts
Personal Manuscripts
Large and Small Manuscripts
‘Authentic’ Manuscripts
‘Fake’ Manuscripts
Manuscript Quality, Beautiful and Ugly Manuscripts
Numbers of Manuscripts, Popularity of Texts
Collective Volumes
Fragments of Other Texts in Manuscripts
Titles
Multiple Titles

2 Access to Manuscripts
Public Collections of Indonesian Manuscripts
Semi-Public Collections
Private Collections
Lost Manuscripts
Microfilms and Digital Manuscripts
Blogs, Portals, Social Media and Digital Search Machines
Catalogs

3 Lontar and Gěbang (Nipah) Manuscripts
Lontar Manuscripts
Protective Covers
The Writing Process
Numbering in Lontar Manuscripts
Text in Lontar
Maarti Texts
Gĕbang (Nipah) Manuscripts

4 Verse, Verse Meters and Their Indications
Verse Structures
Page Lay-Out of Texts in Tĕmbang Macapat
Sasmitaning Tĕmbang
Kidung
Kakawin
Javanese Syi’ir

5 Mistakes and Corrections in Manuscripts
Writers’ Own Indications of Mistakes
Levels of Mistakes
Indications of Mistakes and Corrections
Mistakes Indicated and Corrected During Writing or Afterwards
Corrections and Additional Notes and Editions of Texts

6 Dating and Calendars
The Javanese Calendar
7 Colophons
Manuscripts Copied with the Original Colophon
Colophons in Javanese Texts from Java
Colophons in Old and Middle Javanese Texts
Colophons Added to Colophons
Personal and General Information in Balinese Colophons
Changes in Colophons Over Time
Colophons in Balinese Manuscripts in Balinese
Colophons in Sasak and Javanese Manuscripts from Lombok
Colophon as Part of the Text or Not?
Excuses for Mistakes and Poor Workmanship

8 Other Information on Dating and Ownership
Manuscript Gifts to Scholars
Ownership Information on Separate Pages Preceding or after the Text
Personal Information on the Fore-Edge of the Book Block
Library and Ownership Stamps
Labels
Other Indications of Ownership
Signatures
Hidden Names of Authors and the Places where They Live
Name Hidden in Illuminations
Pre-Printed Paper

Appendix 1 Candra Sangkala in Manuscripts
Appendix 2 Alternative Names for Macapat Meters
Appendix 3 Pada Marks in Javanese, Sundanese and Madurese Manuscripts
Appendix 4 Sasmita Salinining Tĕmbang from Java, Lombok, Bali and Sunda
Appendix 5 Sasmita Wiwitaning Tĕmbang in Javanese Texts from Java
Appendix 6 Verse Schemes of the Most Encountered Verse Meters in Bali According to I Gusti Putu Jlantik
Appendix 7 Kakawin Verse MetersAppendix 8 Table to Calibrate the Javanese and Arabic Years to the Gregorian Calendar According to Djidwal 1932
Glossary
Manuscripts Quoted
Bibliography
Index

Source: Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

The Art of Liberation & The Liberation of Art

Manifesto of the New Art Movement 1987

Manifesto of the New Art Movement 1987

THE ART OF LIBERATION
THE LIBERATION OF ART

The art of liberation is expression based on an awareness of the need for the liberation of the definition of art. The forms taken by this expression prioritizes declaration and the spirit of exploration based on an aesthetic of liberation.

The Art of Liberation The Liberation of Art

The Art of Liberation The Liberation of Art

The liberation of art is the initiative to change the definition of art. The principle idea of this awareness is that art is an expression of plurality which is based on a variety of frames of references. The definition of art currently recognized and acknowledged is shackled to the definition of art as only painting, sculpture or graphic design is art as bound to the frame of reference of “High Art”.

(I) Observing:

The definition of art as encompassing expression in only three fields, namely painting, sculpture and graphic design, is devoid of a conceptual framework.

(II) Considering:

The definition of the Indonesian term seni rupa is based on a direct translation of the term “fine arts” descending from a Latin definition from the Renaissance which is la belle arti del disegno.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Sticker Car

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Sticker Car (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(III) Concluding:

It is not fully understood that this definition of art is rooted in the principles of artes liberales (Liberal Arts) from the frame of reference of “High Art” elaborated during the Renaissance in the sixteenth century, an outlook that believes in the existence of only one (high) culture and the one type of art which it has produced.

(IV) Declaring:

That art is an expression of plurality. That culture has a variety of frames of reference.

(V) Declaring:

The current definition of art is the result of adaptation devoid of conceptual thinking, lacking consideration of the acculturation of aesthetics.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Documentation

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Documentation (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

This formulation of the definition of art is trapped. The definition of art with a “High Art” frame of reference has become completely impoverished and specific. This formulation does not see the surrounding reality where a variety of expressions of art based on other frames of reference are found.

Throughout the history of Indonesian art, this groundless and contorted definition has held sway. On the other hand, art grounded in ethnic cultures, popular art from everyday life, crafts and design (art with other frames of reference outside the old definition) stand as phenomena which never gets any attention.

This is an ironic curiosity.

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Supermarket

New Art Movement Exhibition 1987 Project 1: Supermarket Fantasy World Supermarket (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(VI) Paying Attention To:

The only expression of art which is in accord with that definition of art is the only one used by Indonesian Modern Art, part of World Modern Art (derived from artes liberales) in its connection to the principle that “art is universal”.

Due to the inaccurate formulation of its definition, Indonesian Modern Art is also trapped in a narrow circle. Once again there has been adaptation without conceptual thought or aesthetic consideration. Artists and critics of Indonesian Modern Art have in truth become blind and regard modern art – painting, sculpture and graphic design – as the one and only expression of art. Outside this, art does not exist. This attitude has become popular and is seen in the expression: “… is not painting”.

This is not fanaticism for a particular idea, rather a strongly held attitude which is baseless. The reality is truly: confusion. The absence of critical attention to this contorted definition is a sign of this confusion. In fact, there is no awareness of any definition at all. The activities of modern art itself proceed in a fragmented way with painting as the most popular of these.

(VII) Declaring:

Modern Indonesian Artists have made an idiomatic error, using the language of Modern Art but without an aesthetic understanding. They base their artistic activity entirely on incomplete fragments of the history of Modern Art, a belief in the history of art and only one understanding of aesthetics.

Modern Indonesian artists have become consumerist. They regard a variety of concepts of style within these fragments of the History of Modern Art as a source which has to be made sacred and embraced unconditionally. A contorted imitation of lifestyle also happens. A romantic lifestyle has turned into epigonic eccentricity. Internally exploratory individualism has been replaced by megalomaniacal egotism.

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

Project 1 Supermarket Fantasy World Exhibition 1987

This advanced erroneous adaptation has led critics and modern artists into a preoccupation with matching expressions of modern art with a “dictionary” of art history. Modern artists truly do not practice a tradition of exploration.

(VIII) Declaring:

Thinking about art in Indonesia is headed for bankruptcy.

Indonesian Modern Art, the only art consistent with the definition, is experiencing a deep stagnation. It is fixed on the early styles of Modern Art. It has stopped exploring, is incapable of reflecting inwardly in search of the basis for other developments.

Art based on other frames of reference has been expunged from thinking about art. The contorted definition of art has relegated this to obscurity. Art with a background in ethnic cultures has without exception been framed as belonging to the past. Graphic design as the product of technological and industrial progress is thought of as crude art regarded only for its surface beauty. Popular art which deals with everyday life is regarded as the product of mass culture and as devoid of value.

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World "No 1 in America"

New Art Movement Exhibition 1987, Project 1: Supermarket Fantasy World “No 1 in America” (http://archive.ivaa-online.org/events/detail/14)

(IX) Proclaiming:

What is needed is the liberation of art. A framework of expression that prioritizes the dismantling of a misguided tradition of art. A framework of expression that is rational and which prioritizes expression based on an aesthetics of liberation.

(X) Proclaiming:

What is needed is a redefinition of art, the liberation of art from the confines of a definition rooted in artes liberales, to search for a new definition capable of embracing every expression of art.

(XI) Proclaiming:

What is needed is the liberation of our thought world from a completely single perspective believing in only one frame of reference which begets one art, only one global community in a cultural form that is complete and integrated.

Jakarta, May 2 1987

 


(*) Translation of the Manifesto of the New Art Movement 1987 is based in part on the work of the Digital Archive of Contemporary Indonesian Art and is also available in the original at Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru 1987. It represents the manifesto of the New Art Movement used for the Project 1: Fantasy World Supermarket (Pasaraya Dunia Fantasi: Proyek 1) exhibition in 1987.

Gerakan Seni Rupa Baru at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art.

Muslim Shrines in the Malay World – KITLV

Lecture: Muslim Shrines in the Malay world: Scattered, Contentious, and Illuminating Inscriptions in the Landscape

By Sumit Mandal (University of Nottingham, Malaysia Campus)

This lecture explores Muslim shrines in the Malay world. Muslim shrines, or keramat as they are known in Malay, are constituted by the grave sites of exceptional individuals and found across the Malay world, understood here as contemporary Malaysia, Singapore, Indonesia, and South Africa. They commemorate people who in their lifetime demonstrated extraordinary acts, skills, knowledge, or piety. The graves could be of historical figures, frequently of diverse and transregional origin, as well as unknown or fantastical individuals. The narratives that circulate about them tell of their miraculous powers. They are sites of popular veneration tied to Muslim societies but have drawn people of diverse faiths. Although they are ubiquitous, they are highly localized. Given their scattered and varied character, is it fair to consider them as a whole? If so, how might we go about it? Could the study of these shrines help us better locate the significance of non-elite histories and popular veneration? This lecture considers these questions as it delves into the politics of history, space, and faith as it unfolds in these sites.

Sumit Mandal is a historian at the University of Nottingham, Malaysia Campus. He obtained his PhD at Columbia University in New York in 1994 and worked at the National University of Malaysia and Humboldt University in Berlin before taking up his current position in 2015. He is interested in the transregional architecture of Asian societies. His research has focused primarily on Muslim societies in the Malay world – in relation to the Indian Ocean – as well as contemporary Indonesia, Malaysia, and Singapore. His publications have appeared in Indonesia and the Malay World, Citizenship Studies, Modern Asian Studies, and other journals. He also co-edited Challenging Authoritarianism in Indonesia and Malaysia (RoutledgeCurzon, 2003) and has written on the author Pramoedya Ananta Toer. His current research focuses on Muslim shrines in the Malay world as inscriptions of history and sacred geography. His book Becoming Arab: Creole Histories and Modern Identity in the Malay World is forthcoming with Cambridge University Press.

This lecture is the keynote speech of the workshop ‘Unsettling encounters: Scholarly study, religious knowledge, and difficult histories in Asia and the Caribbean‘ (closed session), organized by KITLV in collaboration with AMT/Leiden University.

Date: Monday 11 September 2017

Time: 9.00 h – 10.30 h

Venue: room 2.01, Reuvensplaats 2, Leiden

Please register if you wish to attend: kitlv@kitlv.nl

Banten

Graves of the Sultans of Banten

Banten Minaret

Banten Mosque Minaret

Garuda by Kanva Abas

“This Black December” 1974

One Hundred Thousand for Rubbish Art: A Review of Menanam Padi di Langit [Planting Rice in the Sky] by Puthut EA. Blog post by Wahyudin, January 2017

9

[…] Listen to the description of Bambang Bujono (Tempo, 11 January 1975): “Neither in the invitation to painters to participate in the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition nor in the guidelines for the judging panel for the exhibition can you find a section normally found in judging guidelines, namely that the decision of the judges can not be disputed.

Maybe for this reason, a dispute arose that took the form of the “1974 Black December Declaration” and the delivery of a condolence funeral wreath on behalf of the community to the Jakarta Arts Council for the “Death of Indonesian Painting”. This happened on the last night of 1974, on the closing night of the 1974 Art Festival at the Jakarta Arts Center (Taman Ismail Marzuki or TIM). About the last thing, the condolence wreath, it didn’t come off because the security guards at TIM were the ones who “accepted” the wreath and they then stored and locked it in the TIM Dance Studio.”

Compare this with the description of Miklouho-Maklai (1998: 36-37). “On 31 December 1974 during the Grand Indonesian Painting Exhibition which was held biennially at TIM, an incident occurred which marked the start of the New Art Movement. A protest against the judges which awarded prizes to a number of paintings expressed in the form of sending a condolence funeral wreath emblazoned with the words “With condolences for the death of our painting”.

The condolence wreath was sent on the last day of the exhibition, when the prizes were given to the winners of the competition traditionally accompanying the Biennial. This was intended to publicize their anger at the judges who only valued what the students regarded as “decorative and consumerist” painting. The protesters called themselves the “Black December” movement and it was also supported by the students from the Indonesian Academy of Visual Arts (ASRI).”

Look at this photograph:

Condolence Furneral Wreath

Condolence Funeral Wreath – “With Condolences for the Death of Our Painting” (Tempo, 11 January 1975)

[…] The first paragraph on page 69 says, “Apart from the wreath, there was also a manifesto written by the protesters, many names signed it, especially from Bandung, Jakarta and of course the five people from Yogya.”

The question is, who were the “five people from Yogya”? It’s very surprising that even with his overactive imagination, the writer of this book is unable to answer this question.

A short explanation on page 67 of the book makes it possible to speculate about the “five people from Yogya”. But the page only mentions four people, Bonyong, Harsono, Hardi, and Nanik Mirna. So who’s the person not mentioned? Because the answer is not provided in the book, we have to recall the historical facts about the Group of Five Young Yogya Painters.

As I mentioned earlier, according to Harsono (2013), the Group of Five Young Yogya Painters which formed in Yogyakarta in 1973 under the “guidance” of Fadjar Sidik (painter, STSRI “ASRI” lecturer, and member of the judging panel for the “Good Paintings” exhibition) was composed of five students from STSRI “ASRI” Yogyakarta, that is Bonyong Munni Ardhi, FX Harsono, Hardi, Nanik Mirna, and Siti Adiyati. (Also see Hendro Wiyanto, “FX Harsono dan Perkembangan Karyanya [1972-2009]” in Re: Petesi/Posisi FX Harsono, (2010: 41-187); Dermawan T (2013) and Miklouho-Maklai (1998: 33-34)).

At the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition or Jakarta Biennial I, they were invited to participate. Apart from them, listed in the catalog were five other STSRI “ASRI” students who were also invited, namely Nyoman Gunarsa, Ris Purwana, Suatmaji, Sudarisman and Subroto SM.

Given these historical facts, I hope no reader is tempted to speculate and answer that what was meant by the writer of this book by the “five people from Yogya” is Bonyong, Harsono, Hardi, Nanik Mirna, and Siti Adiyati, because such speculation would take one  down the road of historical liars and the anti-“Jasmerah” brigade.

How could it be otherwise as you need to know that although invited to participate in the 1974 Grand Indonesian Painting Exhibition, there were only four members of the Group of Five Young Yogya Painters who signed the “Black December” manifesto, namely Bonyong, Hardi, Harsono, and Adiyati. (See Harsono (2013); Dermawan T. (2013); Wiyanto (2010: 70) and Miklouho-Maklai (1998: 36-38).) The one person who did not sign the Declaration, of course you can guess, was Nanik Mirna. This is why Nanik did not receive the academic sanction of being “suspended without time limit” from STSRI “ASRI” as was the case with Bonyong, Hardi, Harsono, Adiyati, and Ris Purwana. (See “Skors di ASRI”, Tempo, 15 February 1975; Dermawan T. (tt.: 135); Dermawan T. (2013); Miklouho-Maklai (1998: 38) and Dermawan T. (1979: 2).)

Black December Statement Signatories 31 December 1974

Black December Declaration Signatories 31 December 1974

Black December Declaration 1974

Black December Declaration 1974

Black December 1974 Declaration

Recalling that over the past few years, artistic and cultural activities have been carried on without a clear cultural strategy, we have come to the conclusion that art and culture entrepreneurs do not display a shred of evidence of the slightest understanding of the most fundamental problems of our culture. This is an indication that for some time the development of art and culture has been destroyed by a spiritual erosion.

For this reason, we feel the need in this black December of 1974 to declare our opinion regarding the symptoms visible in the works of Indonesian painting today.

1. That while the diversity of Indonesian painting constitutes an undeniable fact, even so this diversity does not in itself display positive development.

2. That for development that ensures the continuation of our culture, painters have a high calling to provide spiritual direction which is based on humanitarian values and which is oriented around the reality of social life, and which is oriented towards the realities of social, cultural, political and economic life.

3. That creativity is the essential nature of painters who employ whatever means to achieve new perspectives for Indonesian painting.

4. That therefore the identity of Indonesian painting has of itself a clear existence.

5. That what has hindered the development of Indonesian painting to date is worn out concepts which are still professed by the establishment, art and culture entrepreneurs and established artists.

In the interest of saving our painting, now is the right time for us to bestow an honor on that establishment, that is the honor of being a retired culture fighter.

Indonesia, 31 December 1974

Signed by:
Muryotohartoyo, Juzwar, Harsono, B. Munni Ardhi, M. Sulebar, Ris Purwana, Daryono, Adiyati, D. A. Peransi, Baharudin Marasutan, Ikranegara, Adri Darmadji, Hardi, Abdul Hadi W


This slideshow requires JavaScript.


Source: Seratus Ribu untuk Sampah Seni Rupa.

Images of the Declaration come from Desember Hitam, GSRB Dan Kontemporer.

Image of Garuda by Kanva Abas from Fase Perkembangan Sejarah Senirupa Indonesia Bagian 2.

The Grand Indonesian Painting Exhibition 1974 at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art.   The exhibition catalog.

Gerakan Seni Rupa Baru Exhibition 1987 at the Digital Archive of Indonesian Contemporary Art .

The Najwa Gaze

A Note from Ahok

 

A Note from Ahok
For Metro TV Show Mata Najwa and host Nana.

Indonesian Police Mobile Brigade
Headquarters [Prison], 16 August 2017

I’m one of those who was often invited onto [Metro TV’s talk] show Mata Najwa. (Showing off a little here 🙂 ) What’s for sure is there were a lot of supporters both for and against me appearing on the show. Why? Because Najwa would ask the hard questions and would fish and box me in when the viewers suspected me of, thought I was giving the impression I was guilty or lying. For me, [the host of the show] Nana is a professional person, and doesn’t try to win the argument all the time or give the impression of cornering you. Nana only wants her viewers to get the truth from insightful questions, of course with that classic Najwa gaze. I’m grateful, the Mata Najwa show allowed me to appear just as I am, and definitely to say it as it is. Facing questions, and the Mata Najwa gaze, there was only one key. I had to answer according to what was in my heart and conscience. My mouth and brain had to connect. By doing that, Nana and the viewers would accept all my answers. I pray that Nana is successful and full of joy wherever she serves. The Lord bless you, Nana.

Signed BTP

Nana

Nana

Nervous waiting to interview Ahok

Nervous waiting to interview Ahok

Notes from Ahok on Twitter

A note from Ahok on Twitter

 


1977 General Election

Poem on a Cigar

By W.S. Rendra

Taking a drag on a fat cigar
Gazing over Great Indonesia
Listening to 130 million people,
And in the sky
Two or three businessmen squat down
And shit on their heads.

The sun comes up
And the sun goes down
And all I can see are eight million children
With no education.

I question,
But my questions
Slam into the desks of bureaucrats like a traffic jam,
And the blackboards of educators
Who are cut off from life’s problems.

Eight million children
Cram down one long road,
With no options
With no trees
With no shady places to rest,
With no idea of where they’re going.

***

Suck in the air
Full of deodorant spray,
I see unemployed graduates
Covered in sweat along the highway;
I see pregnant women
Queuing for pension money.
And in the sky:
The technocrats sprout:
That the country is lazy
That the country must be developed,
Must be “upgraded”,
Made to fit technology that’s imported.

Mountains tower skyward.
The sky a festival of colors at sunset.
And I see
Protests that are pent up
Squeezed under mattresses.

I question,
But my questions
Bang into the foreheads of armchair poets,
Who write about grapes and the moon,
While injustices happen all around them,
And eight million children with no education
Gape at the feet of the goddess of art.

The future hopes of the nation
Stars swirling in front of their faces
Below neon advertisements.
The hopes of millions of mothers and fathers
Meld into a gaggle of clamoring voices
Become a reef under the surface of the ocean.

***

We have to stop buying foreign formulas.
Textbooks can only give methods,
But we ourselves have to formulate our situation.
We have to come onto the streets
Go into the villages
See for ourselves every indicator
And experience the real problems.

This is my poem,
A pamphlet for a time of emergency.
What is the point of art,
If it’s cut off from the suffering around it
What is the point of thinking
If it’s cut off from life’s problems.

ITB Bandung
19 August 1977


Sajak Sebatang Lisong was published in State of Emergency, W.S. Rendra, Wild & Woolley, Glebe, 1978, p. 12.

Three parties in the 1977 election

The three parties in Indonesia’s 1977 legislative general election

Cars at Tjililitan Airfield at Batavia (circa) 1930

The Ambition

By Muhammad Yamin

Night has fallen, cool and still
The breeze is so gentle and soft;
The ocean heaves, murmuring quietly
The smooth surface glistening and glinting.

Out stretched hands reach into the night air
Unsteadily withdrawn, by a heart without joy
Because of the “wish”, remembered so often
So brilliantly, beyond words.

Every star shines brightly
Finally aware is this body of mine
The desired is reaching through nobility.

Who can doubt, can not believe
That we are always guided
By God, the Lord who is so rich?

On the Indian Ocean, June 1921

Gezicht over Tandjong Priok, de haven van Batavia

Gezicht over Tandjong Priok, de haven van Batavia  Deze foto is genomen vanaf het spoorwegstation van de Staatsspoorwegen (SS) in de haven Tandjong Priok bij Batavia (Jakarta). Rechts is de “Eerste Binnenhaven” te zien.

The Ambition (Tjita-Tjita) was first published in Indonesian in the Dutch-language journal Jong Sumatra : organ van den Jong Sumatranen Bond, Batavia, June 1921. It was republished in Pane, Armijn (ed), Sandjak-Sandjak Muda Mr. Muhammad Yamin [The Young Poems of Mr. Muhammad Yamin], Firma Rada, Djakarta, 1954, p. 6.

Salawaku

Salawaku Trailer – MIFF

 

The remote wilderness of Indonesia’s Maluku Islands provides a magnificent backdrop for this gentle journey of youthful discovery.

In a secluded village in Indonesia’s beautiful Maluku Islands, ten-year-old Salawaku’s older sister has gone. Salawaku takes it upon himself to find her and sets off on a grand journey into the wild heart of his country. Joined in his travels by the son of the village chief and a tourist from Jakarta carrying her own heavy burden, Salawaku will learn to see his sister in a new light after discovering that the world of adults is more complicated than it seems.

From rising star of Indonesian cinema Pritagita Arianegara comes Salawaku, an eye-opening and heart-stirring road movie set in a stretch of the world where roads barely exist. Nominated for eight awards at the Indonesian Film Festival, including Best Film and Best Director, it is a film of surprises and wonder, where difficult secrets and glorious landscapes combine into a tender and morally complex whole.

CLASSROOM DISCUSSION POINTS
Double standards for men and women in different cultures, attitudes towards sex and family, how romance is depicted in cinema, the divide between the country lifestyle and the city lifestyle, knowing how to behave ethically.

MIFF recommends this film as suitable for ages 10+
Very mild themes about unwanted pregnancy and abortion, all of which is mostly indirectly implied through dialogue, and none on which is shown. Some very mild impact scenes depicting characters being pushed around and slapped. One scene where adult characters get drunk.

Source: Melbourne International Film Festival

 

EFEK RUMAH KACA Tiba-Tiba Suddenly konser Again

Kilometer 95

IMG20170726215048

Hanya berselang beberapa jam saja setelah pesawat Saya landing di Jakarta senin pagi, sambil menunggu bagasi, iseng-iseng Saya cek akun Instagram Saya. Akun @sebelahmata_erk yang merupakan official account band pop minimalis Jakarta, Efek Rumah Kaca men-Share postingan kalau mereka akan mengadakan konser dadakan pada hari rabunya. Konser dengan tajuk “Tiba-tiba Suddenly Konser Again” ini diselenggarakan di ballroom kuningan City. Menggelar konser dadakan bukan hal yang baru untuk Efek Rumah Kaca. Ini adalah kedua kalinya mereka menggelar konser dadakan. Akhir tahun lalu mereka juga menggelar konser dadakan yang berlokasi di Ruru Radio, Gudang Sarinah, Pancoran. Dan kabarnya tiket konser pada waktu itu yang hanya diinfokan beberapa jam menjelang konser terjual habis. Tidak mengherankan sebenarnya, Kesempatan menonton Efek rumah kaca memang menjadi sesuatu yang langka beberapa tahun belakangan karena Cholil, sang vokalis sedang tinggal di Amerika untuk beberapa tahun kedepan. Makanya Kepulangan Cholil ke Indonesia selalu ditunggu para penggemarnya.

Keinginan untuk menonton…

View original post 737 more words