Category Archives: Puisi

64

64

By Emha Ainun Nadjib

My God
one among the thousands of faults
that ensnare the history of our life
is the error we fall into when deciding 
how much backwardness is contained in our progress
how much failure is contained in our success
how much destruction is contained in our improvement
how pressing is the darkness contained in our awakening
how enormous is the backwardness contained in our advancement
and how much war is contained in our call for peace.
My God
in our eyes so full of arrogance
ever greater grows the confusion of
what is to be left behind and what embraced
what is of the heights and what of the depths

 


Emha Ainun Nadjib.  99 untuk Tuhanku [99 For My God],  Pustaka Bandung  1983.

Malam Transfigurasi, Karya Richard Dehmel

Malam Transfigurasi

Oleh Richard Dehmel

Dua orang melalui hutan kering yang dingin;
bulan berlari bersama mereka, mereka memandangnya.
Bulan berlari di atas pohon-pohon ek yang tinggi;
tidak ada awan yang mengaburkan cahaya dari langit,
di mana dahan kering hitam merentang.
Suara seorang wanita berbicara:

Aku mengandung anak, dan bukan milikmu,
aku berjalan dalam dosa di sampingmu.
Aku telah sangat berdosa pada diriku sendiri.
Aku tak lagi percaya pada kebahagiaan
namun penuh kerinduan
akan kehidupan yang bermakna, akan bahagianya menjadi ibu
akan tugas; kurelakan
dengan gemetar, kutinggalkan kaumku
dalam dekapan pria tak dikenal,
dan karenanya aku diberkati.
Sekarang hidup sendiri telah membalas dendam:
sekarang pun aku telah bertemu denganmu, ya kamu.

Dia berjalan dengan langkah canggung.
Dia mendongak; bulan sedang berlari.
Tatapan gelapnya tenggelam dalam cahaya.
Suara seorang pria berbicara:

Biarkan anak yang kaukandung
membuat jiwamu tanpa beban.
Ya, lihat betapa jernihnya alam semesta berkilau!
Ia bersinar untuk segalanya;
Kau terapung denganku di atas laut yang dingin,
tapi ada kehangatan pribadi berkedip
dari kau di dalamku, aku di dalammu.
Ini akan metransfigurasi anak yang asing itu,
Kau akan lahirkan anak itu bagai anakku sendiri;
kau bawa cahaya padaku,
kau buatkan aku seorang anak.

Dia rangkul tubuh yang penuh.
Napas mereka berciuman di udara.
Dua orang melalui malam yang tinggi dan cerah.


—Richard Dehmel, Verklärte Nacht, pertama kali diterbitkan di Weib und Welt (1896)

Rujukan

Featured image credit: www.dehmelhaus.de/aktuell.html

The Tendrils of Memory

The Tendrils of Memory

By Tintajemari

the tendrils of memory punish me so harshly,
the tightness in my chest feels like being stabbed in the heart,
I burst into sobs
breaking the silence of regret,
while I know that you will not be arriving
to wipe away my tears,
the memory now cuts me to the core, my love

 

 


Source: Sulur-sulur ingatan itu by IG: Tintajemari

Featured image Journey To East Java (Borobudur) By
Rahiman Madli https://flic.kr/p/a9gxrH

Don’t forget to check out: https://www.instagram.com/tintajemari/

We Met

We Met

By Tintajemari

We met,
not at the right time,
I think,
or perhaps the universe is trying
to say that love has never really
ever existed?
for us

 

 


Source: Kita bertemu

Featured image Journey To East Java (Yogjakarta) by
Rahiman Madli https://flic.kr/p/aa6bpp

Don’t forget to check out: https://www.instagram.com/tintajemari/

The Next Sunset

The Next Sunset

By Tintajemari

i console my sadness at sunset that is so fleeting
when night falls let my longing stay strong
till the next sunset when our meeting begets gazes
And that if God still takes pity
and eases my worry that’s reached the point of exhaustion.

 


Source: Aku Menulis Lagi blog, Featured image from InfoAstronomy.org

Don’t forget to check out:

https://www.instagram.com/tintajemari/