Soother of sorrows or seducer of morals? The Malay Hikayat Inderaputera – Asian and African studies blog of The British Library

“Probably composed in the late 16th century, Hikayat Inderaputera was one of the most widespread and popular Malay tales, and is known from over thirty manuscripts dating from the late 17th century onwards. The story is found from Sumatra to Cambodia and the Philippines, not only in Malay but also in Acehnese, Bugis, Makasarese, Sasak, Cham, Maranao and Maguindanao versions (Braginsky 2009). At its core is probably a Persian mathnawi based, in turn, on the Hindi poem Madhumalati written around 1550 (Braginsky 2004: 388), but it also drew on Malay Islamic epics such as Hikayat Amir Hamzah and Javanese Panji stories.” Read more.

Opening pages of the Hikayat Inderaputera, with the double decorated frames digitally reunited (as the MS is currently misbound). British Library, MSS Malay B.14, ff. 1v-2r.

Sirat al-mustakim, composed by Nuruddin al-Raniri between 1634 and 1644, a copy from Aceh, 19th century. British Library, Or 15979, ff. 2v-3r.

The manuscript of Hikayat Inderaputera is written in a distinctive neat small hand, with two styles of the letter kaf. In the middle in red is the word al-kisah, with a decoratively knotted final letter, ta marbuta, signifiying the start the episode of Inderaputera’s abduction by the golden peacock: Al-kisah peri mengatakan tatkala Inderaputera diterbangkan merak emas. British Library, MSS Malay B.14, f. 5r (detail).

Sumatra

Love

By Muhammad Yamin, 1921

I often laze about, deep in thought,
Watching the sky aglow,
Vaguely visible, joyful,
Sweeping all away, my contemplative thoughts.

What is there to say, what does the future hold?
Weak is my heart, without any strength,
Watching the stars shining gloriously,
Far atop the mountains.

Oh God of all nature,
What is the point of being here,
Worrying about my lot, after night has fallen?

The stars are shining now and it is dark,
Leaving me sitting here like this
Longing for love . . . leave me here to drown in my thoughts.


Based on and adapted from the work of Keith Foulcher (“Perceptions of Modernity and the Sense of the Past: Indonesian Poetry in the 1920s.” Indonesia, no. 23, 1977, pp. 39–58. www.jstor.org/stable/3350884.) First published in Indonesian in the Dutch language journal Jong Sumatra : organ van den Jong Sumatranen Bond, Batavia, June 1921.

Biljartzaal van sociëteit De Harmonie te Batavia

Ayah

Ayah

Oleh Sylvia Plath

Kamu tidak lagi pas, kamu tidak lagi pas
sepatu hitam
Di mana aku sudah hidup seperti kaki
Selama tiga puluh tahun, miskin dan putih,
Hampir tidak berani bernafas atau bersin.

Ayah, aku sudah harus membunuhmu.
Kamu meninggal sebelum aku ada waktu–
Berat seperti marmer, sekarung penuh Tuhan,
Patung mengerikan dengan satu jari kaki kelabu
Sebesar anjing laut Frisco

Dan sebuah kepala di dalam Atlantik aneh itu
Di mana hujan deras berwarna hijau kacang di atas biru
Di perairan lepas Nauset yang indah
Aku dulu berdoa untuk mendapatkanmu kembali.
Ach, du.

Dalam bahasa Jerman, di kota Polandia itu
Terkikis datar oleh penggilas
Perang, perang, perang.
Tapi nama kota itu umum.
Sahabatku orang Polak

Katanya ada selusin atau lebih.
Jadi saya tidak pernah bisa tahu di mana kamu
Menginjakkan kakimu, akarmu,
Aku tidak pernah bisa berbicara denganmu.
Lidah terjebak di rahangku.

Lidah terjebak dalam jerat kawat berduri.
Ich, ich, ich, ich,
Aku hampir tidak bisa bicara.
Aku pikir setiap orang Jerman adalah kamu.
Dan bahasanya kasar

Sebuah lokomotif, sebuah lokomotif
Bergemuruh membawaku seperti orang Yahudi.
Seorang Yahudi ke Dachau, Auschwitz, Belsen.
Aku mulai berbicara seperti orang Yahudi.
Aku pikir mungkin aku adalah orang Yahudi.

Salju di Tyrol, bir jernih dari Wina
Tidak begitu murni maupun benar.
Dengan leluhur perempuanku seorang Jipsi dan keberuntunganku yang aneh
Dan pak kartu Tarotku dan pak kartu Tarotku
Mungkin aku sedikit Yahudi.

Aku selalu takut padamu,
Dengan Luftwaffemu, omong kosongmu.
Dan kumis rapimu
Dan mata Aryanmu, biru terang
Manusia Panzer, manusia Panzer, Oh Kamu–

Bukan Tuhan tetapi swastika
Begitu hitam sehingga tiada sedikitpun langit dapat mengintip.
Setiap wanita mencintai seorang Fasis,
Sepatu bot di muka, orang kejam itu
Hati brutal dari orang brutal seperti kamu.

Kamu berdiri di papan tulis, ayah,
Dalam gambar kamu yang aku punya,
Celah dalam dagumu bukan kakimu
Tetapi itu tidak mengurangi kesetananmu, tak juga
Mengurangi sifatmu sebagai orang kulit hitam yang

Menggigit hati merah cantikku menjadi dua.
Usiaku sepuluh ketika mereka menguburmu.
Pada usia dua puluh aku berusaha mati
Dan kembali, kembali, kembali kepadamu.
Aku pikir tulang pun akan cukup.

Tetapi mereka menarikku keluar dari karung,
Dan aku ditempel kembali dengan lem.
Kemudian aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku membuat model kamu,
Seorang pria berpakaian hitam berpenampilan Meinkampf

Dan sayang pada rak dan sekrup.
Dan aku berkata ya, ya.
Jadi ayah, aku akhirnya putus.
Telepon hitam itu mati pada akarnya,
Suara-suara itu tetap tidak mampu merayap keluar.

Jika aku telah membunuh seorang pria, aku sudah membunuh dua–
Vampir yang mengaku sebagai kamu
Dan minum darahku selama setahun,
Tujuh tahun, kalau kamu ingin tahu.
Ayah, kamu dapat berbaring sekarang.

Ada pasak kayu dalam jantung hitam gemukmu
Dan penduduk desa tidak pernah menyukaimu.
Mereka menari dan menginjak-injakmu.
Mereka selalu tahu itu kamu.
Ayah, ayah, bajingan kamu, putuslah aku.


https://www.poetryfoundation.org/poems-and-poets/poems/detail/48999

Sylvia Plath, “Daddy” from Collected Poems. Copyright © 1960, 1965, 1971, 1981 by the Estate of Sylvia Plath. Editorial matter copyright © 1981 by Ted Hughes. Used acknowledging all applicable rights of HarperCollins Publishers.

Source of English: Collected Poems (HarperCollins Publishers Inc, 1992)

Images: http://www.geheugenvannederland.nl/nl

Prauwen

I’ve Been To Telok

I’ve been to Telok, and to Siam too,

Mecca’s the only place I haven’t been yet;

I have embraced, kissed too I have,

Marry’s the only thing I haven’t done yet.


Ke Teluk sudah, ke Siam sudah,

Ke Makkah sahadja sahaja jang belum,

Berpeluk sudah, bercium sudah,

Bernikah sahadja sahaja jang belum.


Emeis, M. G.  Bloemlezing Uit Het Klassiek Maleis Bunga Rampai Melaju Kuno Groningen-Batavia/Djakarta 1949: Wolters